Ketika Bumi dalam Cengkeraman Mereka yang Mengaku Membela Agama
Miftah yusufpati
Rabu, 06 Agustus 2025 - 05:45 WIB
Sesungguhnya rahmat-Nya mendekat kepada siapa saja yang mengikhlaskan diri, meninggalkan kerusakan, dan memilih jalan ihsan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Hanya satu ayat, tetapi gaungnya mengguncang nalar dan nurani: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (Allah) memperbaikinya. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-A’râf: 56)
Ayat ini seperti teguran yang tak habis masa berlakunya. Ia bersuara lantang di tengah gurun syirik, menyala di reruntuhan peradaban yang menolak kebenaran, dan menuding para penguasa yang mengaburkan batas antara ibadah dan pengkhianatan moral. Di tengah zaman ketika agama sering menjadi kendaraan ambisi atau tameng kebobrokan, ayat ini seperti obor yang menunjukkan jalan ke arah semestinya.
Dalam tafsirnya yang masyhur, Abu Ja’far ath-Thabari (w. 310 H) menjelaskan bahwa makna “kerusakan di muka bumi” tidak terbatas pada penggundulan hutan atau polusi industri. Tapi lebih dalam dari itu: syirik, maksiat, dan pembangkangan terhadap wahyu. Kerusakan spiritual, katanya, adalah bentuk kebinasaan paling awal yang menyeret kerusakan lainnya.
“Janganlah kalian menyekutukan Allah dan berbuat maksiat di bumi, karena perbuatan seperti itulah kerusakan yang sebenarnya,”ujarnyadalam Tafsîr ath-Thabari (5/515).
Baca juga: Jamkrindo Siap Perluas Layanan Penjaminan Kredit dan Lingkungan Hidup di Gorontalo
Lebih dari seribu tahun silam, Abu Bakar bin ‘Ayyâsy (w. 194 H) sudah menegaskan bahwa kerusakan terjadi saat umat meninggalkan risalah Muhammad. Dalam Tafsîr Ibnu Abi Hâtim (4/124), ia menulis: “Allah mengutus Nabi Muhammad saat dunia dalam keadaan rusak. Maka siapa pun yang menyeru kepada selain apa yang dibawa oleh Rasulullah, dialah pelaku kerusakan itu sendiri.”
Nama Tuhan yang Diseret-seret
Ayat ini seperti teguran yang tak habis masa berlakunya. Ia bersuara lantang di tengah gurun syirik, menyala di reruntuhan peradaban yang menolak kebenaran, dan menuding para penguasa yang mengaburkan batas antara ibadah dan pengkhianatan moral. Di tengah zaman ketika agama sering menjadi kendaraan ambisi atau tameng kebobrokan, ayat ini seperti obor yang menunjukkan jalan ke arah semestinya.
Dalam tafsirnya yang masyhur, Abu Ja’far ath-Thabari (w. 310 H) menjelaskan bahwa makna “kerusakan di muka bumi” tidak terbatas pada penggundulan hutan atau polusi industri. Tapi lebih dalam dari itu: syirik, maksiat, dan pembangkangan terhadap wahyu. Kerusakan spiritual, katanya, adalah bentuk kebinasaan paling awal yang menyeret kerusakan lainnya.
“Janganlah kalian menyekutukan Allah dan berbuat maksiat di bumi, karena perbuatan seperti itulah kerusakan yang sebenarnya,”ujarnyadalam Tafsîr ath-Thabari (5/515).
Baca juga: Jamkrindo Siap Perluas Layanan Penjaminan Kredit dan Lingkungan Hidup di Gorontalo
Lebih dari seribu tahun silam, Abu Bakar bin ‘Ayyâsy (w. 194 H) sudah menegaskan bahwa kerusakan terjadi saat umat meninggalkan risalah Muhammad. Dalam Tafsîr Ibnu Abi Hâtim (4/124), ia menulis: “Allah mengutus Nabi Muhammad saat dunia dalam keadaan rusak. Maka siapa pun yang menyeru kepada selain apa yang dibawa oleh Rasulullah, dialah pelaku kerusakan itu sendiri.”
Nama Tuhan yang Diseret-seret