Bebas Ibadah karena Dekat Tuhan? Tafsir Sesat atas Ayat Suci
Miftah yusufpati
Kamis, 07 Agustus 2025 - 05:15 WIB
Marifah sejati bukanlah pelarian dari syariat, tetapi buah dari ketaatan yang terus-menerus. Ilustrasi: Ai
LANGIT7.ID | Sepanjang sejarah Islam, kaum sufi dikenal sebagai pencari makna terdalam dari spiritualitas. Namun di tengah jalan yang panjang itu, lahir cabang-cabang ekstrem: yang menganggap diri telah sampai pada Allah, hingga tak lagi diwajibkan beribadah. Syariat digugurkan, bahkan dosa dibenarkan. Warisan tafsir yang melenceng ini terus hidup sampai kini.
Fenomena semacam ini bukan hal baru dalam praktik sufisme di Nusantara. Di balik keteduhan ajaran tasawuf tentang cinta dan kedekatan kepada Ilahi, tersembunyi sisi gelap: keyakinan bahwa ada manusia tertentu yang tak lagi dibebani kewajiban syariat. Mereka diklaim telah sampai pada tingkat kedekatan spiritual yang membuat perintah-perintah agama tak lagi relevan bagi dirinya.
“Sungguh aneh,” tulis Ibnu Hazm dalam al-Fashl, “satu sekte Sufi mengklaim bahwa wali-wali Allah lebih utama daripada para nabi dan rasul. Mereka mengatakan, siapa yang mencapai derajat tertinggi dalam kewalian, maka gugur syariat atas dirinya. Bahkan, zina, minum khamr, dan menggauli istri orang pun menjadi halal baginya” (al-Fashl 4/226).
Baca juga: Jalan di Atas Air: Sebuah Kisah Sufi tentang Makna yang Melampaui Kaidah
Pandangan ini jelas melampaui batas. Logika sederhana saja dapat membantahnya. Jika Nabi Muhammad SAW—manusia terbaik dan paling dekat kepada Allah—masih mendirikan shalat hingga ajal menjemput, bagaimana mungkin ada manusia biasa yang merasa dirinya tak perlu lagi beribadah?
Imam Ibnul Qayyim dalam Madârijus Sâlikîn menyebut pemahaman ini sebagai bentuk kekufuran dan ilhâd, yakni penyimpangan yang menjauhkan seseorang dari agama. “Mereka merasa puas dengan khayalan batil dan tipu daya setan,” tulisnya (Madârijus Sâlikîn 3/118).
Tafsir Serampangan atas Al-Qur'an
Fenomena semacam ini bukan hal baru dalam praktik sufisme di Nusantara. Di balik keteduhan ajaran tasawuf tentang cinta dan kedekatan kepada Ilahi, tersembunyi sisi gelap: keyakinan bahwa ada manusia tertentu yang tak lagi dibebani kewajiban syariat. Mereka diklaim telah sampai pada tingkat kedekatan spiritual yang membuat perintah-perintah agama tak lagi relevan bagi dirinya.
“Sungguh aneh,” tulis Ibnu Hazm dalam al-Fashl, “satu sekte Sufi mengklaim bahwa wali-wali Allah lebih utama daripada para nabi dan rasul. Mereka mengatakan, siapa yang mencapai derajat tertinggi dalam kewalian, maka gugur syariat atas dirinya. Bahkan, zina, minum khamr, dan menggauli istri orang pun menjadi halal baginya” (al-Fashl 4/226).
Baca juga: Jalan di Atas Air: Sebuah Kisah Sufi tentang Makna yang Melampaui Kaidah
Pandangan ini jelas melampaui batas. Logika sederhana saja dapat membantahnya. Jika Nabi Muhammad SAW—manusia terbaik dan paling dekat kepada Allah—masih mendirikan shalat hingga ajal menjemput, bagaimana mungkin ada manusia biasa yang merasa dirinya tak perlu lagi beribadah?
Imam Ibnul Qayyim dalam Madârijus Sâlikîn menyebut pemahaman ini sebagai bentuk kekufuran dan ilhâd, yakni penyimpangan yang menjauhkan seseorang dari agama. “Mereka merasa puas dengan khayalan batil dan tipu daya setan,” tulisnya (Madârijus Sâlikîn 3/118).
Tafsir Serampangan atas Al-Qur'an