Murid di Persimpangan: Menyusuri Jejak Awal Sufi
Miftah yusufpati
Ahad, 17 Agustus 2025 - 06:11 WIB
Sufisme bisa hadir sebagai jalan marifat, sebagai tarekat, sebagai filsafat, atau sebagai musik huruf-huruf yang memengaruhi jiwa. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Ia datang dengan kepala penuh tanda tanya. Seorang murid muda, imajiner belaka, baru pertama kali mendengar istilah Sufi. Baginya, kata itu terdengar asing, samar-samar eksotis, tetapi sekaligus penuh beban stereotip: mistisisme Islam, tarian darwis, atau sekadar laku religius yang jauh dari dunia nyata.
Namun, darimana ia bisa memulai? Tiga jalur terbuka di hadapannya. Pertama, menekuni buku-buku para pakar yang mengabdikan hidupnya pada studi Sufisme. Kedua, belajar melalui organisasi yang mengaku menjalankan praktik Sufi, dengan terminologi yang mereka anggap otentik. Ketiga, bertemu individu-individu atau kelompok yang oleh orang sekitarnya disebut Sufi, entah di Timur Tengah, Asia Selatan, atau bahkan Barat modern.
Dari tiga pintu itu, sang murid segera menemukan satu hal penting: kata Sufisme sendiri ternyata produk baru. Istilah itu dicatat pertama kali pada 1821 oleh seorang orientalis Jerman. Sejak itu, sebutan ini lebih sering beredar di Barat ketimbang di dunia Islam.
Kebingungan mulai merayap. Mengapa istilah yang kini begitu populer tak dikenal dalam bahasa-bahasa Muslim klasik? Sebagai gantinya, sang murid akan menjumpai istilah lain: Qadiriyah (mengacu pada tarekat Syekh Abdul Qadir al-Jailani), ashhab al-shafa(sahabat Nabi yang dianggap berjiwa suci), hingga istilah mutashawwif—orang yang berusaha menjadi Sufi.
Sebutan-sebutan ini menambah kabut. Di telinga Barat, nama tarekat seperti Qadiriyah atau Naqsyabandiyah terdengar eksotis, kadang salah kaprah dipahami sebagai sekte atau ordo rahasia. Bahkan ada organisasi dengan nama Para Pembangun atau Orang-orang Tercela, yang simbolismenya sekilas mirip Freemasonry.
Bagi murid yang polos itu, fakta ini menghadirkan problem nyata: bagaimana memisahkan yang otentik dari imitasi, yang tradisi dari ilusi?
Baca juga: Jalan di Atas Air: Sebuah Kisah Sufi tentang Makna yang Melampaui Kaidah
Namun, darimana ia bisa memulai? Tiga jalur terbuka di hadapannya. Pertama, menekuni buku-buku para pakar yang mengabdikan hidupnya pada studi Sufisme. Kedua, belajar melalui organisasi yang mengaku menjalankan praktik Sufi, dengan terminologi yang mereka anggap otentik. Ketiga, bertemu individu-individu atau kelompok yang oleh orang sekitarnya disebut Sufi, entah di Timur Tengah, Asia Selatan, atau bahkan Barat modern.
Dari tiga pintu itu, sang murid segera menemukan satu hal penting: kata Sufisme sendiri ternyata produk baru. Istilah itu dicatat pertama kali pada 1821 oleh seorang orientalis Jerman. Sejak itu, sebutan ini lebih sering beredar di Barat ketimbang di dunia Islam.
Kebingungan mulai merayap. Mengapa istilah yang kini begitu populer tak dikenal dalam bahasa-bahasa Muslim klasik? Sebagai gantinya, sang murid akan menjumpai istilah lain: Qadiriyah (mengacu pada tarekat Syekh Abdul Qadir al-Jailani), ashhab al-shafa(sahabat Nabi yang dianggap berjiwa suci), hingga istilah mutashawwif—orang yang berusaha menjadi Sufi.
Sebutan-sebutan ini menambah kabut. Di telinga Barat, nama tarekat seperti Qadiriyah atau Naqsyabandiyah terdengar eksotis, kadang salah kaprah dipahami sebagai sekte atau ordo rahasia. Bahkan ada organisasi dengan nama Para Pembangun atau Orang-orang Tercela, yang simbolismenya sekilas mirip Freemasonry.
Bagi murid yang polos itu, fakta ini menghadirkan problem nyata: bagaimana memisahkan yang otentik dari imitasi, yang tradisi dari ilusi?
Baca juga: Jalan di Atas Air: Sebuah Kisah Sufi tentang Makna yang Melampaui Kaidah