Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 14 Maret 2026
home masjid detail berita

Murid di Persimpangan: Menyusuri Jejak Awal Sufi

miftah yusufpati Ahad, 17 Agustus 2025 - 06:11 WIB
Murid di Persimpangan: Menyusuri Jejak Awal Sufi
Sufisme bisa hadir sebagai jalan marifat, sebagai tarekat, sebagai filsafat, atau sebagai musik huruf-huruf yang memengaruhi jiwa. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Ia datang dengan kepala penuh tanda tanya. Seorang murid muda, imajiner belaka, baru pertama kali mendengar istilah Sufi. Baginya, kata itu terdengar asing, samar-samar eksotis, tetapi sekaligus penuh beban stereotip: mistisisme Islam, tarian darwis, atau sekadar laku religius yang jauh dari dunia nyata.

Namun, darimana ia bisa memulai? Tiga jalur terbuka di hadapannya. Pertama, menekuni buku-buku para pakar yang mengabdikan hidupnya pada studi Sufisme. Kedua, belajar melalui organisasi yang mengaku menjalankan praktik Sufi, dengan terminologi yang mereka anggap otentik. Ketiga, bertemu individu-individu atau kelompok yang oleh orang sekitarnya disebut Sufi, entah di Timur Tengah, Asia Selatan, atau bahkan Barat modern.

Dari tiga pintu itu, sang murid segera menemukan satu hal penting: kata Sufisme sendiri ternyata produk baru. Istilah itu dicatat pertama kali pada 1821 oleh seorang orientalis Jerman. Sejak itu, sebutan ini lebih sering beredar di Barat ketimbang di dunia Islam.

Kebingungan mulai merayap. Mengapa istilah yang kini begitu populer tak dikenal dalam bahasa-bahasa Muslim klasik? Sebagai gantinya, sang murid akan menjumpai istilah lain: Qadiriyah (mengacu pada tarekat Syekh Abdul Qadir al-Jailani), ashhab al-shafa (sahabat Nabi yang dianggap berjiwa suci), hingga istilah mutashawwif—orang yang berusaha menjadi Sufi.

Sebutan-sebutan ini menambah kabut. Di telinga Barat, nama tarekat seperti Qadiriyah atau Naqsyabandiyah terdengar eksotis, kadang salah kaprah dipahami sebagai sekte atau ordo rahasia. Bahkan ada organisasi dengan nama Para Pembangun atau Orang-orang Tercela, yang simbolismenya sekilas mirip Freemasonry.

Bagi murid yang polos itu, fakta ini menghadirkan problem nyata: bagaimana memisahkan yang otentik dari imitasi, yang tradisi dari ilusi?

Baca juga: Jalan di Atas Air: Sebuah Kisah Sufi tentang Makna yang Melampaui Kaidah

Sumber akademik pun tak memberi jawaban tunggal. Profesor R.A. Nicholson, sarjana klasik studi Islam dari Cambridge, menegaskan Sufi berasal dari kata shuf (wol). Konon, para zuhud Muslim awal mengenakan jubah wol kasar sebagai simbol penolakan duniawi, meniru pendeta Kristen di padang pasir Syria.

Tetapi definisi ini tak menyelesaikan perkara. Idries Shah mencatat, kaum Sufi sendiri menolak kalau sekadar pakaian wol menjadi identitas mereka. Bagaimana mungkin tradisi spiritual yang menekankan kesempurnaan jiwa hanya dipersempit pada sehelai jubah binatang?

Hujwiri, penulis Persia abad ke-11 yang karyanya menjadi rujukan otoritatif, bahkan menyatakan tegas: “Sufi tidak memiliki etimologi.” Sebuah pernyataan yang membingungkan sarjana Barat. Nicholson tetap berkeras mencari asal-usul etimologis, menolak absurditas tanpa akar kata.

Bagi murid kita, perdebatan itu seperti labirin. Di satu sisi, ia melihat kaum filolog bersikukuh mengaitkan kata Sufi dengan wol, asketisme, dan simbol busana. Di sisi lain, kaum Sufi justru menganggap bunyi huruf S-U-F (shad, waw, fa) memiliki resonansi spiritual tersendiri. Bagi mereka, makna tidak selalu terikat pada kamus, tapi bisa lahir dari getaran suara.

Baca juga: Kisah Sufi Humor Nasrudin Hoja: Sepotong Keju

Tak heran jika Sufisme sering dituduh kabur dan penuh mistifikasi. Sebagian peneliti Yahudi mengaitkannya dengan Hasidim dan Cabbala. Ada pula yang melihat persamaan dengan filsafat Yunani, Hermetisme, hingga Platonisme. Kaum Sufi sendiri menolak tuduhan turunan, dengan tegas menyebut diri sebagai arus independen yang sejajar, bukan warisan pinjaman.

Di sinilah persoalan besar bagi sang murid: definisi Sufisme justru semakin banyak, bukan semakin jelas. Jika ia mencari kepastian, yang ia temukan hanyalah kontradiksi: Sufi sebagai mistikus Islam, sebagai ahli hikmah universal, atau sekadar pengamal jubah wol.

Nicholson, Rice, Noldeke, dan sederet sarjana lain memberi penjelasan yang saling tumpang tindih. Tetapi di kalangan praktisi, jawabannya lebih sederhana sekaligus rumit: Sufi adalah orang-orang yang menjalani jalan tertentu menuju ma’rifat, jalan pengetahuan batin yang tidak bisa dipahami hanya dengan intelektual.

Di titik ini, murid kita mungkin mulai frustasi. Ia menyadari problem yang mengendap: mempelajari Sufisme berarti juga menghadapi komitmen psikologisnya sendiri. Banyak orang, kata Idries Shah, ingin belajar Sufi tetapi menolak membuka diri. Mereka takut pandangan dunianya terkoyak, atau berupaya mengurung Sufisme dalam kerangka disiplin yang sudah akrab: antropologi, sosiologi, atau psikologi.

Namun, bagi kaum Sufi, itu justru gejala keterbatasan. Mereka menyebut orang-orang semacam itu “merendahkan kapasitasnya sendiri.”

Sang murid di persimpangan itu akhirnya belajar satu hal penting: Sufisme bukan sekadar label akademik atau organisasi tarekat. Ia adalah jalan panjang dengan problem tersendiri—kerumitan istilah, silang tafsir, hingga jebakan psikologis pencari.

Baca juga: Kisah Humor Sufi: Nasrudin dan Pencuri yang Malang

Lalu, apa yang bisa ia pelajari? Mungkin bukan definisi tunggal, melainkan kesadaran akan kompleksitas. Bahwa Sufisme bisa hadir sebagai jalan ma’rifat, sebagai tarekat, sebagai filsafat, atau sebagai musik huruf-huruf yang memengaruhi jiwa. Bahwa perjumpaan pertama dengannya lebih sering menimbulkan kebingungan ketimbang kepastian.

Bagi murid itu, seperti ditulis Idries Shah dalam The Way of the Sufi, Sufisme adalah “jalan dengan gerbang banyak, tetapi tak ada papan nama yang jelas.” Siapa yang masuk hanya akan tahu jika ia berjalan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 14 Maret 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:05
Ashar
15:11
Maghrib
18:09
Isya
19:18
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)