home masjid

Amal Paling Utama: Bukan yang Sulit, Tapi yang Dibutuhkan

Senin, 18 Agustus 2025 - 05:45 WIB
Di balik seluruh perdebatan soal mana yang lebih utamabertani, berdagang, atau beribadah ritualbenang merahnya jelas: ukuran amal tak pernah mutlak. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di tengah debat klasik tentang profesi apa yang paling utama dalam pandangan agama, Syaikh Yusuf al-Qardhawi punya jawaban yang berbeda. Bukan sekadar memilih pertanian, industri, atau perdagangan, melainkan menimbangnya dari kebutuhan masyarakat pada waktu dan tempat tertentu.

“Keutamaannya terletak pada keperluan masyarakat terhadap ketiga profesi tersebut,” tulis al-Qardhawi dalam Fiqh Prioritas (Robbani Press, 1996). Bagi sang ulama kelahiran Mesir itu, keutamaan amal bukan sesuatu yang kaku, melainkan fleksibel sesuai kondisi.

Di sebuah desa yang tengah dilanda paceklik, petani justru dianggap paling mulia. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Anas menegaskan, “Tidak ada seorang Muslimpun yang bercocok tanam kemudian dimakan oleh burung, manusia, atau binatang lainnya kecuali hal itu dianggap sebagai sedekah.” Maka, dalam keadaan kelaparan, bercocok tanam bukan sekadar profesi, melainkan ibadah sosial yang menyelamatkan nyawa.

Namun ketika lumbung pangan melimpah, kebutuhan beralih. Industri bisa lebih utama. Selain membuka lapangan kerja, industri juga menjadi penopang kemandirian bangsa. “Perindustrian dapat melindungi keamanan negara karena adanya perindustrian senjata dan menutup kekurangan produksi umat,” tulis al-Qardhawi.

Baca juga: Fikih Prioritas: Berani Benar di Hadapan Kekuasaan

Adapun perdagangan? Dalam kondisi lain, ia bisa menjadi amal paling utama. “Seorang pedagang yang jujur akan dibangkitkan bersama para nabi, orang-orang jujur, dan para syahid,” sabda Nabi Muhammad sebagaimana diriwayatkan Tirmidzi. Terlebih bila perdagangan dilakukan dengan amanah, tanpa menimbun barang demi keuntungan pribadi.

“Jika dunia perniagaan dikuasai oleh orang-orang tamak, maka pekerjaan yang paling utama saat itu ialah perdagangan,” kata al-Qardhawi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya