LANGIT7.ID- Di tengah debat klasik tentang profesi apa yang paling utama dalam pandangan agama,
Syaikh Yusuf al-Qardhawi punya jawaban yang berbeda. Bukan sekadar memilih pertanian, industri, atau perdagangan, melainkan menimbangnya dari kebutuhan masyarakat pada waktu dan tempat tertentu.
“Keutamaannya terletak pada keperluan masyarakat terhadap ketiga profesi tersebut,” tulis al-Qardhawi dalam
Fiqh Prioritas (Robbani Press, 1996). Bagi sang ulama kelahiran Mesir itu, keutamaan amal bukan sesuatu yang kaku, melainkan fleksibel sesuai kondisi.
Di sebuah desa yang tengah dilanda paceklik, petani justru dianggap paling mulia. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Anas menegaskan, “Tidak ada seorang Muslimpun yang bercocok tanam kemudian dimakan oleh burung, manusia, atau binatang lainnya kecuali hal itu dianggap sebagai sedekah.” Maka, dalam keadaan kelaparan, bercocok tanam bukan sekadar profesi, melainkan ibadah sosial yang menyelamatkan nyawa.
Namun ketika lumbung pangan melimpah, kebutuhan beralih. Industri bisa lebih utama. Selain membuka lapangan kerja, industri juga menjadi penopang kemandirian bangsa. “Perindustrian dapat melindungi keamanan negara karena adanya perindustrian senjata dan menutup kekurangan produksi umat,” tulis al-Qardhawi.
Baca juga: Fikih Prioritas: Berani Benar di Hadapan Kekuasaan Adapun perdagangan? Dalam kondisi lain, ia bisa menjadi amal paling utama. “Seorang pedagang yang jujur akan dibangkitkan bersama para nabi, orang-orang jujur, dan para syahid,” sabda Nabi Muhammad sebagaimana diriwayatkan Tirmidzi. Terlebih bila perdagangan dilakukan dengan amanah, tanpa menimbun barang demi keuntungan pribadi.
“Jika dunia perniagaan dikuasai oleh orang-orang tamak, maka pekerjaan yang paling utama saat itu ialah perdagangan,” kata al-Qardhawi.
Prinsip fleksibilitas ini tidak hanya berlaku pada urusan duniawi, tetapi juga ibadah. Imam Ibn al-Qayyim dalam Madarij al-Salikin—yang dikutip al-Qardhawi—menggariskan hal serupa: ibadah paling utama berubah-ubah sesuai waktu, keadaan, dan tempat.
Contoh konkret: saat azan berkumandang, ibadah terbaik bukan dzikir panjang atau wirid khusyuk, melainkan segera menjawab panggilan salat berjemaah. Pada malam Ramadhan terakhir, ibadah paling utama bukan mengajar, melainkan beriktikaf di masjid. Saat tamu datang, yang paling utama bukan wirid, melainkan menyambut dan memuliakannya.
“Amalan yang paling utama setiap waktu ialah mengutamakan pencapaian keridhaan Allah SWT pada setiap waktu dan keadaan,” tulis al-Qardhawi, mengutip Ibn al-Qayyim.
Pandangan ini sekaligus kritik terhadap kelompok perfeksionis yang menilai ibadah paling utama adalah yang paling sulit dilakukan. Hadis yang kerap dijadikan dalil, “Amal ibadah yang paling afdal ialah yang paling sulit”, oleh ulama hadis dikategorikan gharib dan tak dikenal sumber kuatnya.
Baca juga: Kemerdekaan Bukan Sekadar Lepas dari Penjajah: Pandangan Fikih dan Sejarah Islam Ada pula kelompok yang menganggap menjauhi dunia adalah ibadah tertinggi. Namun bagi al-Qardhawi, Islam tidak mendorong umatnya menjadi rahib. Justru sebaliknya, Nabi Muhammad menolak sikap mengucilkan diri dari masyarakat.
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia,” sabda Nabi dalam hadis riwayat Tirmidzi.
Itu sebabnya, mengajar, menolong fakir miskin, atau memberi manfaat sosial kerap dipandang lebih utama daripada ibadah ritual pribadi. Sebab manfaatnya menjalar, tidak berhenti pada diri sendiri.
Meski begitu, ada satu penekanan penting yang dikedepankan al-Qardhawi: umat Islam di abad modern tidak bisa mengabaikan teknologi. “Satu hal yang sangat diperlukan oleh umat kita pada abad ini ialah teknologi canggih,” tulisnya. Tanpa itu, umat akan terus tertinggal dan sulit membangkitkan misi Islamnya.
Karena itu, pendidikan modern harus dipadukan dengan akidah. Peradaban Islam yang pernah berjaya hanya bisa terulang bila umat menguasai ilmu pengetahuan sekaligus menjaga fondasi iman. “Penguasaan teknologi canggih merupakan kewajiban agama sekaligus kepentingan kehidupan nyata kaum Muslimin,” ujar al-Qardhawi.
Di balik seluruh perdebatan soal mana yang lebih utama—bertani, berdagang, atau beribadah ritual—benang merahnya jelas: ukuran amal tak pernah mutlak. Amal menjadi utama ketika ia menjawab kebutuhan zaman.
Baca juga: Menyelaraskan Fitrah dan Fikih Prioritas dalam Kehidupan Muslim Modern Bila umat lapar, makanan lebih utama. Bila terjajah, senjata dan teknologi lebih penting. Bila akhlak runtuh, kejujuran dalam perdagangan jadi penopang. Dan dalam semua keadaan itu, yang menentukan bukan hanya jenis amal, tetapi niat tulus untuk menggapai keridaan Allah.
(mif)