home masjid

Benarkah Hitam Warna Resmi Bendera Islam?

Selasa, 19 Agustus 2025 - 05:15 WIB
Hadis-hadis Nabi memang menyebut soal panji hitam dan putih. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pada sebuah unjuk rasa di Jakarta beberapa tahun silam, sebuah bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid berkibar. Sebagian mengira itu simbol kelompok garis keras. Sebagian lain bersikeras: itulah panji Rasulullah SAW. Kontroversi seketika merebak: benarkah warna hitam adalah bendera Islam?

Perdebatan tentang bendera dalam Islam sejatinya bukan barang baru. Sejarawan Marshall Hodgson dalam The Venture of Islam (1974) mencatat, warna bendera kerap menjadi identitas politik, bukan hanya religius. Dinasti Abbasiyah mengibarkan bendera hitam sebagai tanda perlawanan terhadap Umayyah yang memakai putih. Adapun Fatimiyah di Mesir memilih hijau sebagai lambang legitimasi.

Hadis-hadis Nabi memang menyebut soal panji hitam dan putih. Dalam riwayat Imam Tirmidzi, disebutkan bahwa panji Rasulullah berwarna hitam (al-rāyah al-sawdā’), sedangkan benderanya berwarna putih. Namun, ulama berbeda pendapat: apakah warna itu bersifat normatif atau sekadar simbol kontekstual.

Baca juga: Kemerdekaan Menurut Islam: Antara Tauhid, Kedaulatan, dan Martabat Manusia

Muhammad Hamidullah, dalam The Muslim Conduct of State (1961), menegaskan bahwa Nabi tidak pernah menetapkan warna tunggal sebagai bendera resmi umat Islam. Panji hitam dan putih digunakan dalam konteks peperangan, bukan simbol permanen. Ia melihat warna itu lebih sebagai “alat identifikasi” di medan tempur, bukan lambang teologis.

Pandangan serupa datang dari Muhammad Yusuf Musa dalam Nizham al-Hukm fi al-Islam (1953). Menurutnya, Islam tidak mengenal konsep bendera yang sakral. Apa pun warna yang dipakai, hukumnya mubah, selama tidak bertentangan dengan nilai syiar. Karena itu, klaim bahwa hanya hitam adalah bendera Islam dipandang reduktif dan ahistoris.

Namun, kelompok revivalis modern seperti Hizbut Tahrir menafsirkan berbeda. Mereka meyakini al-rāyah (panji hitam) dan al-liwā’ (bendera putih) sebagai simbol resmi khilafah. Penafsiran ini banyak dikritik. Sejarawan Bernard Lewis dalam The Political Language of Islam (1988) menilai penekanan pada satu warna justru mengebiri keragaman historis simbol Islam.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya