LANGIT7.ID-Pada sebuah unjuk rasa di Jakarta beberapa tahun silam, sebuah bendera hitam bertuliskan kalimat
tauhid berkibar. Sebagian mengira itu simbol kelompok garis keras. Sebagian lain bersikeras: itulah panji
Rasulullah SAW. Kontroversi seketika merebak: benarkah warna hitam adalah bendera Islam?
Perdebatan tentang bendera dalam Islam sejatinya bukan barang baru. Sejarawan Marshall Hodgson dalam
The Venture of Islam (1974) mencatat, warna bendera kerap menjadi identitas politik, bukan hanya religius. Dinasti Abbasiyah mengibarkan bendera hitam sebagai tanda perlawanan terhadap
Umayyah yang memakai putih. Adapun Fatimiyah di Mesir memilih hijau sebagai lambang legitimasi.
Hadis-hadis Nabi memang menyebut soal panji hitam dan putih. Dalam riwayat Imam Tirmidzi, disebutkan bahwa panji Rasulullah berwarna hitam (al-rāyah al-sawdā’), sedangkan benderanya berwarna putih. Namun, ulama berbeda pendapat: apakah warna itu bersifat normatif atau sekadar simbol kontekstual.
Baca juga: Kemerdekaan Menurut Islam: Antara Tauhid, Kedaulatan, dan Martabat Manusia Muhammad Hamidullah, dalam
The Muslim Conduct of State (1961), menegaskan bahwa Nabi tidak pernah menetapkan warna tunggal sebagai bendera resmi umat Islam. Panji hitam dan putih digunakan dalam konteks peperangan, bukan simbol permanen. Ia melihat warna itu lebih sebagai “alat identifikasi” di medan tempur, bukan lambang teologis.
Pandangan serupa datang dari Muhammad Yusuf Musa dalam
Nizham al-Hukm fi al-Islam (1953). Menurutnya, Islam tidak mengenal konsep bendera yang sakral. Apa pun warna yang dipakai, hukumnya mubah, selama tidak bertentangan dengan nilai syiar. Karena itu, klaim bahwa hanya hitam adalah bendera Islam dipandang reduktif dan ahistoris.
Namun, kelompok revivalis modern seperti Hizbut Tahrir menafsirkan berbeda. Mereka meyakini
al-rāyah (panji hitam) dan
al-liwā’ (bendera putih) sebagai simbol resmi khilafah. Penafsiran ini banyak dikritik. Sejarawan Bernard Lewis dalam
The Political Language of Islam (1988) menilai penekanan pada satu warna justru mengebiri keragaman historis simbol Islam.
Sejumlah peneliti juga menunjukkan adanya dimensi politis dalam pilihan warna. Annemarie Schimmel dalam
Islamic Calligraphy (1970) menyebut warna hitam kerap dikaitkan dengan kesyahidan, putih dengan kemurnian iman, dan hijau dengan kesuburan serta surga. “Namun, semua itu lebih merupakan tafsir budaya ketimbang hukum syariat,” tulisnya.
Kini, warna bendera dalam Islam lebih sering muncul sebagai simbol identitas politik. Dari aksi massa di Timur Tengah hingga demonstrasi di Indonesia, panji hitam kaligrafi tauhid sering dibawa. Persoalannya, simbol itu lalu dipersempit menjadi identitas kelompok tertentu.
Baca juga: Tak Bisa Dihapus Hanya Dilupakan: Tentang Fitrah, Tauhid, dan Jalan Pulang Padahal, kata Azyumardi Azra dalam
Islam Substantif (2000), Islam tidak pernah mematok lambang tunggal untuk mewakili dirinya. “Simbol hanyalah medium. Substansinya adalah nilai keadilan, tauhid, dan kemanusiaan.”
Dengan demikian, klaim bahwa hitam adalah satu-satunya bendera Islam tidak sepenuhnya benar. Sejarah memperlihatkan beragam warna—hitam, putih, hijau—bergiliran mengibarkan panji kekuasaan umat Islam. Tafsir tunggal justru mengabaikan pluralitas simbol yang kaya makna.
Kontroversi bendera hitam, akhirnya, lebih mencerminkan politik kontemporer ketimbang ajaran asli Nabi. Dalam sejarah, warna hanyalah kain yang berkibar. Yang lebih penting adalah makna yang dikandung di baliknya.
(mif)