Islam di Simpang Jalan: Ancaman dari Pendidikan yang Membarat
Miftah yusufpati
Selasa, 26 Agustus 2025 - 16:00 WIB
Jangan sampai meniru mode hidup Barat mengikis jiwa Islam, karena meniru lahiriah akan menyeret pandangan batin. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pertanyaan ini menggelitik dunia Islam sejak seabad lalu: mungkinkah membangun kemajuan tanpa menukar ruh kebudayaan sendiri? Jawaban panjang tersaji dalam buku klasik Islam di Simpang Jalan (1935) karya Muhammad Asad, seorang pemikir Muslim asal Austria.
Asad mengingatkan, selama kaum Muslimin memandang peradaban Barat sebagai satu-satunya jalan regenerasi, mereka sebenarnya sedang meruntuhkan kepercayaan diri. “Kita tanpa sadar memperkuat klaim Barat bahwa Islam hanyalah kekuatan yang telah habis dikerahkan,” tulisnya (Islam di Simpang Jalan, Pustaka, 1981).
Peringatan ini terasa relevan hingga kini. Modernisasi memang menggoda, tapi harga yang dibayar bisa mahal: hilangnya fondasi spiritual. Asad menyoroti pola pendidikan Barat yang ditelan mentah-mentah di negeri Muslim. Ia bukan menolak sains, tetapi mengkritik jiwa di baliknya: semangat materialisme yang dingin terhadap agama.
Baca juga: Arab Saudi Semakin Liberal Impor Budaya Barat, Ini Alasannya
Mengapa Kita Membarat?
“Apakah mungkin pendidikan Barat tidak memengaruhi jiwa Islam?” tanya Asad. Ia menjawab tegas: tidak mungkin. Sistem itu dibangun di atas pengalaman kultural Eropa yang anti-agama. “Efeknya, generasi muda Islam membuang kepercayaan pada risalah Nabi dan kehilangan kebanggaan kulturalnya,” ujarnya.
Dampaknya tampak jelas: kaum terdidik yang dibaratkan kerap menjauh dari agama, bukan karena dalil ilmiah yang menentang, melainkan karena suasana intelektual Barat menekan nilai religius. Kepercayaan, kata Asad, bukan sekadar soal argumentasi logis, melainkan produk lingkungan budaya.
Asad mengingatkan, selama kaum Muslimin memandang peradaban Barat sebagai satu-satunya jalan regenerasi, mereka sebenarnya sedang meruntuhkan kepercayaan diri. “Kita tanpa sadar memperkuat klaim Barat bahwa Islam hanyalah kekuatan yang telah habis dikerahkan,” tulisnya (Islam di Simpang Jalan, Pustaka, 1981).
Peringatan ini terasa relevan hingga kini. Modernisasi memang menggoda, tapi harga yang dibayar bisa mahal: hilangnya fondasi spiritual. Asad menyoroti pola pendidikan Barat yang ditelan mentah-mentah di negeri Muslim. Ia bukan menolak sains, tetapi mengkritik jiwa di baliknya: semangat materialisme yang dingin terhadap agama.
Baca juga: Arab Saudi Semakin Liberal Impor Budaya Barat, Ini Alasannya
Mengapa Kita Membarat?
“Apakah mungkin pendidikan Barat tidak memengaruhi jiwa Islam?” tanya Asad. Ia menjawab tegas: tidak mungkin. Sistem itu dibangun di atas pengalaman kultural Eropa yang anti-agama. “Efeknya, generasi muda Islam membuang kepercayaan pada risalah Nabi dan kehilangan kebanggaan kulturalnya,” ujarnya.
Dampaknya tampak jelas: kaum terdidik yang dibaratkan kerap menjauh dari agama, bukan karena dalil ilmiah yang menentang, melainkan karena suasana intelektual Barat menekan nilai religius. Kepercayaan, kata Asad, bukan sekadar soal argumentasi logis, melainkan produk lingkungan budaya.