Syirik di Era Modern: Dari Berhala Batu ke Sistem Dunia
Miftah yusufpati
Rabu, 27 Agustus 2025 - 05:15 WIB
Fenomena syirik tak punah, hanya berganti wajah. Dari berhala batu menjadi uang, kekuasaan, hingga ideologi modern. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pada abad digital, ketika manusia mengaku berperadaban maju, fenomena penyembahan berhala seakan hanya tinggal mitos. Namun, Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dalam bukunya Fiqh Prioritas mengingatkan, syirik—mempersekutukan Allah—tak pernah benar-benar lenyap. Ia hanya berganti rupa, dari batu dan pohon menjadi simbol dan sistem.
“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit dan disambar burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh,” tulis Al-Qardhawi mengutip Al-Qur’an (al-Hajj: 31). Gambaran dramatis yang menandakan kehancuran spiritual akibat syirik.
Dalam Al-Qur’an, Allah berkali-kali menyinggung fenomena ini. Di era Jahiliyah, kaum Arab mengakui keberadaan Tuhan Sang Pencipta, Pengatur alam, Pemberi rizki—yang dikenal sebagai tauhid rububiyyah. Namun, mereka masih menyembah entitas lain dengan dalih perantara menuju Allah. “…Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya…” (az-Zumar: 3).
Menurut Qardhawi, pemahaman ini melahirkan tauhid ilahiyyah yang cacat. Tuhan diakui, tetapi disekutukan. Mereka sujud kepada berhala, batu, pohon, bahkan fenomena alam. Ironinya, praktik serupa tak sepenuhnya punah. Ia kini menjelma dalam bentuk kepercayaan pada benda, sistem, hingga manusia yang dipuja setara Tuhan.
Baca juga: Wacana Hukuman Mati bagi Koruptor: Telaah Fikih dan Maqasid al-Syari’ah
Klasik, Tapi Aktual
Dalam sejarah, syirik hadir dalam ragam bentuk: Majusi Persia dengan dualisme cahaya dan kegelapan, politeisme Hindu dan Buddha, hingga paham animisme di Afrika. “Kemusyrikan itu ialah tempat tumbuhnya berbagai bentuk khurafat,” tulis Qardhawi.
“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit dan disambar burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh,” tulis Al-Qardhawi mengutip Al-Qur’an (al-Hajj: 31). Gambaran dramatis yang menandakan kehancuran spiritual akibat syirik.
Dalam Al-Qur’an, Allah berkali-kali menyinggung fenomena ini. Di era Jahiliyah, kaum Arab mengakui keberadaan Tuhan Sang Pencipta, Pengatur alam, Pemberi rizki—yang dikenal sebagai tauhid rububiyyah. Namun, mereka masih menyembah entitas lain dengan dalih perantara menuju Allah. “…Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya…” (az-Zumar: 3).
Menurut Qardhawi, pemahaman ini melahirkan tauhid ilahiyyah yang cacat. Tuhan diakui, tetapi disekutukan. Mereka sujud kepada berhala, batu, pohon, bahkan fenomena alam. Ironinya, praktik serupa tak sepenuhnya punah. Ia kini menjelma dalam bentuk kepercayaan pada benda, sistem, hingga manusia yang dipuja setara Tuhan.
Baca juga: Wacana Hukuman Mati bagi Koruptor: Telaah Fikih dan Maqasid al-Syari’ah
Klasik, Tapi Aktual
Dalam sejarah, syirik hadir dalam ragam bentuk: Majusi Persia dengan dualisme cahaya dan kegelapan, politeisme Hindu dan Buddha, hingga paham animisme di Afrika. “Kemusyrikan itu ialah tempat tumbuhnya berbagai bentuk khurafat,” tulis Qardhawi.