Dua Sayap yang Membentang: Persahabatan KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari
Miftah yusufpati
Ahad, 31 Agustus 2025 - 05:15 WIB
KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyari. Foto: Ist
LANGIT7.ID-Bayangkan sebuah sore di awal abad ke-20. Jalan-jalan tanah di Yogyakarta masih dipenuhi debu, sementara di Tebuireng, Jombang, suara santri mengaji tak pernah berhenti menggema. KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dikenal dengan gagasan-gagasan modernnya: mendirikan sekolah dengan meja dan bangku, memperkenalkan metode belajar ala Barat, dan mengajak umat Islam kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan tafsir yang segar. Di sisi lain, KH Hasyim Asy’ari, ulama kharismatik Tebuireng, menjaga warisan pesantren, menekankan adab, sanad keilmuan, dan tradisi fiqih yang kuat.
Kedua tokoh ini, yang oleh generasi belakangan sering diposisikan seolah berseberangan, pada masa hidupnya justru menjalin hubungan mesra. Sejarawan Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama (2004) mencatat bahwa Ahmad Dahlan kerap berkunjung ke Tebuireng. Hasyim Asy’ari pun menyambutnya dengan penuh takzim. Tidak ada sekat ideologis yang membuat mereka saling mencurigai. Yang ada hanyalah penghormatan. “Keduanya meletakkan dasar moral: perbedaan corak pemikiran bukan alasan untuk bermusuhan,” tulis Azra.
Baca juga: Dua Jalan, Satu Tujuan: Persilangan Gagasan KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari
Kita lupa bahwa sejarah pernah mencatat, hubungan pribadi Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy'ari tidak hanya hangat, tetapi saling menopang. Kuntowijoyo dalam Muslim Tanpa Masjid (2001) menulis bahwa Ahmad Dahlan bahkan pernah menitipkan murid-muridnya untuk belajar di Tebuireng. Itu bukan hal kecil. Titipan itu adalah pengakuan. Sebuah penghormatan seorang modernis terhadap otoritas tradisionalis. Dan Hasyim menerima dengan tangan terbuka, tanpa rasa waswas bahwa pesantrennya akan “terkontaminasi”.
Hal ini juga ditegaskan oleh Dawam Rahardjo dalam Pergulatan Dunia Pesantren (1985). Menurutnya, ketika Nahdlatul Ulama lahir pada 1926, tidak ada sikap saling curiga. Muhammadiyah tidak menganggapnya pesaing. NU pun tidak menutup diri dari kerjasama. Justru lahir rasa saling melengkapi. Muhammadiyah bergerak dalam jalur pendidikan dan modernisasi sosial, NU menjaga tradisi dan menyemai akar keislaman di pedesaan.
Lihatlah betapa indahnya pemandangan itu: dua arus besar Islam yang kemudian menjadi pilar bangsa, lahir dari persahabatan yang tulus. Abdul Munir Mulkhan dalam Pesantren dan Pembaharuan (1994) bahkan melukiskan keduanya dengan metafora indah: “Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari ibarat dua sayap burung. Satu menguatkan rasionalitas, satu menjaga spiritualitas. Tanpa keduanya, Islam Indonesia tak mungkin bisa terbang.”
Baca juga: Jabatan KH Ahmad Dahlan Menjadi Cikal-bakal Lahirnya Kementerian Agama
Kedua tokoh ini, yang oleh generasi belakangan sering diposisikan seolah berseberangan, pada masa hidupnya justru menjalin hubungan mesra. Sejarawan Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama (2004) mencatat bahwa Ahmad Dahlan kerap berkunjung ke Tebuireng. Hasyim Asy’ari pun menyambutnya dengan penuh takzim. Tidak ada sekat ideologis yang membuat mereka saling mencurigai. Yang ada hanyalah penghormatan. “Keduanya meletakkan dasar moral: perbedaan corak pemikiran bukan alasan untuk bermusuhan,” tulis Azra.
Baca juga: Dua Jalan, Satu Tujuan: Persilangan Gagasan KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari
Kita lupa bahwa sejarah pernah mencatat, hubungan pribadi Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy'ari tidak hanya hangat, tetapi saling menopang. Kuntowijoyo dalam Muslim Tanpa Masjid (2001) menulis bahwa Ahmad Dahlan bahkan pernah menitipkan murid-muridnya untuk belajar di Tebuireng. Itu bukan hal kecil. Titipan itu adalah pengakuan. Sebuah penghormatan seorang modernis terhadap otoritas tradisionalis. Dan Hasyim menerima dengan tangan terbuka, tanpa rasa waswas bahwa pesantrennya akan “terkontaminasi”.
Hal ini juga ditegaskan oleh Dawam Rahardjo dalam Pergulatan Dunia Pesantren (1985). Menurutnya, ketika Nahdlatul Ulama lahir pada 1926, tidak ada sikap saling curiga. Muhammadiyah tidak menganggapnya pesaing. NU pun tidak menutup diri dari kerjasama. Justru lahir rasa saling melengkapi. Muhammadiyah bergerak dalam jalur pendidikan dan modernisasi sosial, NU menjaga tradisi dan menyemai akar keislaman di pedesaan.
Lihatlah betapa indahnya pemandangan itu: dua arus besar Islam yang kemudian menjadi pilar bangsa, lahir dari persahabatan yang tulus. Abdul Munir Mulkhan dalam Pesantren dan Pembaharuan (1994) bahkan melukiskan keduanya dengan metafora indah: “Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari ibarat dua sayap burung. Satu menguatkan rasionalitas, satu menjaga spiritualitas. Tanpa keduanya, Islam Indonesia tak mungkin bisa terbang.”
Baca juga: Jabatan KH Ahmad Dahlan Menjadi Cikal-bakal Lahirnya Kementerian Agama