Mengurai Misteri Tanggal Lahir Nabi Muhammad SAW
Miftah yusufpati
Rabu, 03 September 2025 - 05:45 WIB
Maulid Nabi dirayakan setiap 12 Rabiul Awal. Tapi sejarawan mencatat banyak versi tentang kelahiran Nabi. Di mana posisi fakta, dan di mana ruang ijtihad? Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Setiap Rabiul Awal, sebagian umat Islam memperingati Maulid Nabi, mengenang kelahiran Rasulullah Muhammad SAW. Namun, di balik perayaan yang penuh cinta ini, tersimpan sebuah perdebatan panjang yang nyaris tak pernah usai: kapan sebenarnya Nabi Muhammad lahir?
Selama berabad-abad, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah menjadi jawaban paling populer. Tanggal ini begitu mengakar dalam tradisi Islam, hingga dianggap pasti oleh banyak kalangan awam. Namun, jika ditelusuri, sejarah mencatat ragam pendapat yang berbeda. Para ahli hadis, sejarawan, dan peneliti modern sepakat bahwa tanggal tersebut bukan kesepakatan mutlak.
Dalam kitab As-Sirah an-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam—yang menyempurnakan riwayat Ibnu Ishaq—tanggal kelahiran Nabi tidak disebut secara eksplisit. Yang disebut hanyalah bahwa beliau lahir pada Tahun Gajah, tahun ketika pasukan Abrahah yang mengendarai gajah hendak menghancurkan Ka’bah. Peristiwa ini menjadi titik sejarah penting, sehingga tahun itu dijadikan penanda kelahiran Rasul.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidāyah wa an-Nihāyah mencatat beragam pendapat: ada yang menyebut Nabi lahir 8 Rabiul Awal, ada yang mengatakan 10, dan ada pula yang memilih 12. Bahkan, sebagian riwayat menyebutkan bulan berbeda, seperti Ramadhan. “Tidak ada hadis sahih yang memastikan tanggal kelahiran Nabi,” tulis Ibnu Katsir, menegaskan ketidakpastian ini.
Baca juga: Memahami Agama dalam Konteks Modern: Pelajaran dari Peringatan Maulid Nabi Oleh KH Faiz Syukron Makmun
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari mengakui bahwa tanggal 12 Rabiul Awal memang paling populer. Namun, ia menambahkan: pendapat ini tidak berdasarkan dalil qath’i (pasti). Artinya, popularitas tanggal tersebut bukan karena nash (teks) yang kuat, tetapi hasil ijtihad dan kesepakatan sosial.
Kajian Astronomi dan Penelitian Modern
Selama berabad-abad, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah menjadi jawaban paling populer. Tanggal ini begitu mengakar dalam tradisi Islam, hingga dianggap pasti oleh banyak kalangan awam. Namun, jika ditelusuri, sejarah mencatat ragam pendapat yang berbeda. Para ahli hadis, sejarawan, dan peneliti modern sepakat bahwa tanggal tersebut bukan kesepakatan mutlak.
Dalam kitab As-Sirah an-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam—yang menyempurnakan riwayat Ibnu Ishaq—tanggal kelahiran Nabi tidak disebut secara eksplisit. Yang disebut hanyalah bahwa beliau lahir pada Tahun Gajah, tahun ketika pasukan Abrahah yang mengendarai gajah hendak menghancurkan Ka’bah. Peristiwa ini menjadi titik sejarah penting, sehingga tahun itu dijadikan penanda kelahiran Rasul.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidāyah wa an-Nihāyah mencatat beragam pendapat: ada yang menyebut Nabi lahir 8 Rabiul Awal, ada yang mengatakan 10, dan ada pula yang memilih 12. Bahkan, sebagian riwayat menyebutkan bulan berbeda, seperti Ramadhan. “Tidak ada hadis sahih yang memastikan tanggal kelahiran Nabi,” tulis Ibnu Katsir, menegaskan ketidakpastian ini.
Baca juga: Memahami Agama dalam Konteks Modern: Pelajaran dari Peringatan Maulid Nabi Oleh KH Faiz Syukron Makmun
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari mengakui bahwa tanggal 12 Rabiul Awal memang paling populer. Namun, ia menambahkan: pendapat ini tidak berdasarkan dalil qath’i (pasti). Artinya, popularitas tanggal tersebut bukan karena nash (teks) yang kuat, tetapi hasil ijtihad dan kesepakatan sosial.
Kajian Astronomi dan Penelitian Modern