Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 23 Mei 2026
home masjid detail berita

Mengurai Misteri Tanggal Lahir Nabi Muhammad SAW

miftah yusufpati Rabu, 03 September 2025 - 05:45 WIB
Mengurai Misteri Tanggal Lahir Nabi Muhammad SAW
Maulid Nabi dirayakan setiap 12 Rabiul Awal. Tapi sejarawan mencatat banyak versi tentang kelahiran Nabi. Di mana posisi fakta, dan di mana ruang ijtihad? Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Setiap Rabiul Awal, sebagian umat Islam memperingati Maulid Nabi, mengenang kelahiran Rasulullah Muhammad SAW. Namun, di balik perayaan yang penuh cinta ini, tersimpan sebuah perdebatan panjang yang nyaris tak pernah usai: kapan sebenarnya Nabi Muhammad lahir?

Selama berabad-abad, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah menjadi jawaban paling populer. Tanggal ini begitu mengakar dalam tradisi Islam, hingga dianggap pasti oleh banyak kalangan awam. Namun, jika ditelusuri, sejarah mencatat ragam pendapat yang berbeda. Para ahli hadis, sejarawan, dan peneliti modern sepakat bahwa tanggal tersebut bukan kesepakatan mutlak.

Dalam kitab As-Sirah an-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam—yang menyempurnakan riwayat Ibnu Ishaq—tanggal kelahiran Nabi tidak disebut secara eksplisit. Yang disebut hanyalah bahwa beliau lahir pada Tahun Gajah, tahun ketika pasukan Abrahah yang mengendarai gajah hendak menghancurkan Ka’bah. Peristiwa ini menjadi titik sejarah penting, sehingga tahun itu dijadikan penanda kelahiran Rasul.

Ibnu Katsir dalam Al-Bidāyah wa an-Nihāyah mencatat beragam pendapat: ada yang menyebut Nabi lahir 8 Rabiul Awal, ada yang mengatakan 10, dan ada pula yang memilih 12. Bahkan, sebagian riwayat menyebutkan bulan berbeda, seperti Ramadhan. “Tidak ada hadis sahih yang memastikan tanggal kelahiran Nabi,” tulis Ibnu Katsir, menegaskan ketidakpastian ini.

Baca juga: Memahami Agama dalam Konteks Modern: Pelajaran dari Peringatan Maulid Nabi Oleh KH Faiz Syukron Makmun

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari mengakui bahwa tanggal 12 Rabiul Awal memang paling populer. Namun, ia menambahkan: pendapat ini tidak berdasarkan dalil qath’i (pasti). Artinya, popularitas tanggal tersebut bukan karena nash (teks) yang kuat, tetapi hasil ijtihad dan kesepakatan sosial.

Kajian Astronomi dan Penelitian Modern

Perbedaan ini memantik minat para sarjana kontemporer. Dengan memanfaatkan ilmu astronomi, mereka mencoba menghitung ulang kalender Qamariyah dan peristiwa Tahun Gajah.

Muhammad Hamidullah, pakar sejarah Islam, dalam The Life and Work of the Prophet of Islam menyebut kelahiran Nabi sekitar 20 Agustus 570 M. Sedangkan riset lain yang dimuat di jurnal Islamic Quarterly memperkirakan tanggal 9 Rabiul Awal, yang bertepatan dengan 20 April 571 M.

Bagaimana cara mereka menghitung? Penelitian ini memadukan catatan sejarah seperti gerhana, siklus bulan, dan tradisi Arab kuno. Meski demikian, tidak ada kesimpulan tunggal. “Pendekatan astronomi mempersempit kemungkinan, tapi tidak menghapus perbedaan,” tulis Abdul Hadi dalam Sejarah Maulid Nabi (2018).

Jika ketidakpastian begitu jelas, mengapa tanggal 12 Rabiul Awal menjadi arus utama? Jawabannya terletak pada sejarah sosial dan keagamaan.

Baca juga: Jutaan Rakyat Yaman Tumpah Ruah di Jalan Peringati Maulid Nabi Muhammad

Menurut Jalaluddin As-Suyuthi dalam Al-Hawi lil Fatawa, ulama generasi setelah sahabat memilih tanggal ini karena dianggap paling masyhur di kalangan umat. Tidak ada dalil yang memaksa, tetapi ada konsensus kultural. Bahkan, di masa Dinasti Ayyubiyah, ketika Sultan Al-Muzhaffar mempopulerkan perayaan Maulid, tanggal 12 Rabiul Awal dijadikan momentum utama.

Seiring waktu, tradisi ini menyebar hingga ke Nusantara. Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat mencatat bahwa di Jawa, Maulid Nabi dikenal dengan istilah Muludan, berpadu dengan tradisi sekaten yang sarat makna dakwah.

Perspektif Ulama dan Perdebatan Bid’ah

Sejak dulu, peringatan Maulid tidak lepas dari perdebatan. Ibnu Taimiyyah dalam Iqtidā’ Shirāth al-Mustaqīm menolak Maulid karena dianggap bid’ah—sesuatu yang tidak pernah dilakukan Nabi. Namun, mayoritas ulama berbeda pandangan. Imam Nawawi, Ibnu Hajar, hingga As-Suyuthi menilai Maulid sebagai bid’ah hasanah—inovasi yang baik—jika diisi dengan dzikir, selawat, dan pengajian.

Perdebatan ini, kata sejarawan Jonathan A.C. Brown dalam Misquoting Muhammad, menunjukkan fleksibilitas tradisi Islam: antara memegang kemurnian ajaran dan menerima ekspresi cinta yang lahir dari budaya.

Baca juga: Ustaz Adi Hidayat Ungkap Rahasia Maulid Nabi yang Jarang Diketahui

Apa yang bisa dipetik dari perdebatan panjang ini? Quraish Shihab memberi jawaban dalam Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW: “Hakikatnya bukan pada tanggal, tetapi pada keteladanan yang diambil dari kehidupan beliau.” Pandangan ini selaras dengan pesan moral Islam: menghidupkan ajaran Nabi lebih utama daripada memperdebatkan angka kalender.

Kini, di era digital, perdebatan ini tidak lagi sebatas kitab kuning atau forum pesantren. Diskusi tentang tanggal lahir Nabi merambah ruang maya, dari artikel akademik hingga obrolan warganet. Namun, sebagaimana sejarah mencatat, yang tetap abadi adalah kecintaan kepada Rasulullah—melampaui ruang dan waktu.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 23 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)