Gunung Sinai, Mesir Salah Satu Tempat Suci di Dunia Dirombak Jadi Mega Resor Mewah
Lusi mahgriefie
Ahad, 07 September 2025 - 09:53 WIB
sumber: iflscience.com
Gunung Sinai, salah satu tempat paling suci di Mesir serta menjadi lokasi penting dalam sejarah agama umat Yahudi, Kristen dan Muslim, kini tengah dirancang untuk menjadi mega proyek pariwisata baru.
Dikenal secara lokal sebagai Jabal Musa, Gunung Sinai berada di Semenanjung Sinai, Mesir yang diyakini sebagai tempat Nabi Musa menerima wahyu dari Allah SWT. Gunung ini memiliki ketinggian 2.285 meter di atas permukaan laut.
Biara St Catherine dari abad ke-6, yang dikelola oleh Gereja Ortodoks Yunani, juga ada di sana. Tampaknya para biksu di sana akan tetap tinggal karena pihak berwenang Mesir, di bawah tekanan Yunani, membantah ingin menutupnya.
Namun, masih ada kekhawatiran mendalam tentang bagaimana lokasi gurun yang lama terisolasi, sebuah situs Warisan Dunia Unesco yang terdiri dari biara, kota dan gunung, sedang diubah. Hotel mewah, vila, dan pasar perbelanjaan sedang dibangun di sana.
Baca juga:Indonesia Berambisi Geser Singapura Sebagai Destinasi Wisata Golf Terbaik di Kawasan
Wilayah tersebut juga merupakan rumah bagi komunitas tradisional Badui, suku Jebeleya. Suku tersebut, yang dikenal sebagai Penjaga St Catherine, telah menghancurkan rumah dan kamp wisata ramah lingkungan mereka dengan sedikit atau tanpa kompensasi. Mereka bahkan terpaksa mengeluarkan jenazah dari kuburan mereka di pemakaman setempat untuk dijadikan tempat parkir mobil baru.
Proyek ini mungkin dianggap sebagai pembangunan berkelanjutan yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pariwisata, namun bagi suku Badui di sana merupakan di luar keinginan mereka.
Dikenal secara lokal sebagai Jabal Musa, Gunung Sinai berada di Semenanjung Sinai, Mesir yang diyakini sebagai tempat Nabi Musa menerima wahyu dari Allah SWT. Gunung ini memiliki ketinggian 2.285 meter di atas permukaan laut.
Biara St Catherine dari abad ke-6, yang dikelola oleh Gereja Ortodoks Yunani, juga ada di sana. Tampaknya para biksu di sana akan tetap tinggal karena pihak berwenang Mesir, di bawah tekanan Yunani, membantah ingin menutupnya.
Namun, masih ada kekhawatiran mendalam tentang bagaimana lokasi gurun yang lama terisolasi, sebuah situs Warisan Dunia Unesco yang terdiri dari biara, kota dan gunung, sedang diubah. Hotel mewah, vila, dan pasar perbelanjaan sedang dibangun di sana.
Baca juga:Indonesia Berambisi Geser Singapura Sebagai Destinasi Wisata Golf Terbaik di Kawasan
Wilayah tersebut juga merupakan rumah bagi komunitas tradisional Badui, suku Jebeleya. Suku tersebut, yang dikenal sebagai Penjaga St Catherine, telah menghancurkan rumah dan kamp wisata ramah lingkungan mereka dengan sedikit atau tanpa kompensasi. Mereka bahkan terpaksa mengeluarkan jenazah dari kuburan mereka di pemakaman setempat untuk dijadikan tempat parkir mobil baru.
Proyek ini mungkin dianggap sebagai pembangunan berkelanjutan yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pariwisata, namun bagi suku Badui di sana merupakan di luar keinginan mereka.