home masjid

Ketika Islam Bertemu Keindahan: Seni dalam Cermin Fitrah

Kamis, 11 September 2025 - 05:15 WIB
Keindahan, menurut Quraish Shihab, bisa menjadi sarana membuktikan kebesaran Tuhantak kalah bahkan bisa lebih kuat daripada argumen logika. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di sebuah forum diskusi sastra, seorang mahasiswa bertanya lirih: “Mengapa kesan yang muncul, Islam kerap curiga terhadap seni?” Pertanyaan itu memantul ke ruang yang lebih luas: sejak kapan agama dan ekspresi keindahan dipertentangkan?

Dalam khazanah tafsir, seni justru ditempatkan sebagai bagian dari fitrah manusia. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Mizan, 1996) menulis: “Mustahil bila Allah yang menganugerahkan manusia potensi untuk menikmati dan mengekspresikan keindahan, kemudian Dia melarangnya. Bukankah Islam adalah agama fitrah?”

Al-Qur’an bahkan menegaskan agama ini sebagai agama yang lurus, sesuai dengan fitrah penciptaan manusia: “Maka tetapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah...” (QS. al-Rum [30]: 30)

Baca juga: Kementerian Kebudayaan Gelar Harmoni Pemajuan Kebudayaan di Bali: Pameran Seni, Tradisi Adat, dan Kuliner Nusantara

Antara Fitrah dan Kekhawatiran

Namun, kesan sebaliknya tak bisa dinafikan. Ada pandangan historis yang membekas: seni dianggap rawan menjerumuskan. Umar bin Khattab, khalifah kedua, pernah berkata bahwa umat Islam meninggalkan dua pertiga transaksi ekonomi karena takut riba. “Agaknya hal itu juga benar jika kalimat transaksi ekonomi diganti dengan kesenian,” tulis Quraish Shihab.

Kekhawatiran berlebihan inilah yang kerap menjadi kendala perkembangan seni dalam masyarakat Islam. Seni ditempatkan di ruang abu-abu—antara naluri keindahan dan rasa waswas terjerumus.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya