Berjihad Melawan Musuh Tak Kasatmata: Tak Selalu Bersenjata
Miftah yusufpati
Senin, 03 November 2025 - 05:15 WIB
Prof Quraish Shihab. Foto/Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dalam pandangan Prof. Dr. M. Quraish Shihab, jihad tidak semata berarti angkat senjata. Al-Qur’an, katanya, memang memerintahkan umat Islam mempersiapkan kekuatan dan strategi menghadapi musuh (QS Al-Anfal: 60). Tapi, kekuatan itu bukan hanya soal fisik atau militer. Ada musuh yang jauh lebih halus—dan lebih berbahaya: setan dan nafsu manusia.
“Al-Qur’an banyak menguraikan sifat-sifat setan, nafsu, orang kafir, dan munafik. Semua itu agar manusia mengenal tipu dayanya,” tulis Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Mizan, 1996). Menurutnya, mengenali musuh adalah bagian dari strategi jihad itu sendiri.
Dalam tafsirnya, Quraish menjelaskan, kata setan berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “lawan” atau “musuh”, atau dari bahasa Arab syaththa yang bermakna “melampaui batas”. Setan adalah simbol kejahatan, sosok yang “selalu di tepi” dan memilih ekstremitas.
Setan, katanya, tidak diciptakan Allah sia-sia. Dengan mengenalnya, manusia bisa menegaskan batas antara kebaikan dan keburukan. “Kebaikan baru nyata ketika kejahatan diabaikan lalu dipilih yang baik,” tulisnya. Di situlah manusia lebih unggul dari malaikat—karena manusia punya pilihan.
Musuh yang Datang dari Segala Arah
Quraish menafsirkan firman Allah dalam QS Al-A’raf [7]:16–17, ketika iblis bersumpah akan menggoda manusia “dari depan, belakang, kanan, dan kiri”. Dua arah yang tersisa hanyalah atas—lambang kehadiran Allah—dan bawah—lambang kesadaran manusia atas kelemahannya. “Manusia harus berlindung kepada Allah dan menyadari kelemahannya agar selamat dari godaan,” tulisnya.
Ibarat virus, setan hanya bisa menjangkiti hati yang lemah. “Imunisasi spiritual,” katanya, dilakukan dengan zikir dan kesadaran ruhani. Ayat lain (QS An-Nisa [4]:76) menegaskan: “Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” Tapi kelemahan itu hanya tampak bagi mereka yang kuat jiwanya.
“Al-Qur’an banyak menguraikan sifat-sifat setan, nafsu, orang kafir, dan munafik. Semua itu agar manusia mengenal tipu dayanya,” tulis Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Mizan, 1996). Menurutnya, mengenali musuh adalah bagian dari strategi jihad itu sendiri.
Dalam tafsirnya, Quraish menjelaskan, kata setan berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “lawan” atau “musuh”, atau dari bahasa Arab syaththa yang bermakna “melampaui batas”. Setan adalah simbol kejahatan, sosok yang “selalu di tepi” dan memilih ekstremitas.
Setan, katanya, tidak diciptakan Allah sia-sia. Dengan mengenalnya, manusia bisa menegaskan batas antara kebaikan dan keburukan. “Kebaikan baru nyata ketika kejahatan diabaikan lalu dipilih yang baik,” tulisnya. Di situlah manusia lebih unggul dari malaikat—karena manusia punya pilihan.
Musuh yang Datang dari Segala Arah
Quraish menafsirkan firman Allah dalam QS Al-A’raf [7]:16–17, ketika iblis bersumpah akan menggoda manusia “dari depan, belakang, kanan, dan kiri”. Dua arah yang tersisa hanyalah atas—lambang kehadiran Allah—dan bawah—lambang kesadaran manusia atas kelemahannya. “Manusia harus berlindung kepada Allah dan menyadari kelemahannya agar selamat dari godaan,” tulisnya.
Ibarat virus, setan hanya bisa menjangkiti hati yang lemah. “Imunisasi spiritual,” katanya, dilakukan dengan zikir dan kesadaran ruhani. Ayat lain (QS An-Nisa [4]:76) menegaskan: “Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” Tapi kelemahan itu hanya tampak bagi mereka yang kuat jiwanya.