home masjid

Makna Jihad di Zaman Damai: Dari Medan Perang ke Medan Kehidupan

Selasa, 04 November 2025 - 05:15 WIB
Prof Quraish Shihab. Foto/Ilustrasi: Ai
LANGIT7.ID-Di tengah riuh tafsir tentang jihad, Prof. Dr. M. Quraish Shihab mencoba menarik maknanya dari medan perang menuju medan kehidupan. Dalam Wawasan Al-Qur’an(Mizan, 1996), ia menulis bahwa jihad sejatinya adalah upaya mempertahankan kebenaran dan kemanusiaan—bukan menebar kekerasan. “Peperangan,” tulisnya, “pada hakikatnya tidak dikehendaki oleh Islam.”



Al-Qur’an sendiri mengingatkan, “Diwajibkan kepadamu berperang, padahal berperang itu sesuatu yang kamu benci.” (QS Al-Baqarah [2]: 216).

Bagi Quraish Shihab, ayat ini bukan sekadar pembatasan, tetapi penegasan bahwa jihad adalah resort terakhir—dilakukan hanya ketika kedamaian gagal ditegakkan.

Di awal surat Al-Anfal, Al-Qur’an menegaskan bahwa jihad dimulai dari keteguhan batin: “Hai Nabi, kobarkanlah semangat kaum mukmin untuk berperang...” (QS Al-Anfal [8]: 65).

Ayat ini, kata Quraish Shihab, menandai jihad sebagai kesiapan mental dan spiritual. Sumber kekuatan bukan senjata, melainkan iman dan kesabaran. Karena itu, ketika Allah memberi “keringanan” kepada kaum mukmin dalam ayat berikutnya (QS 8:66), itu bukan penurunan standar, melainkan pengakuan atas keterbatasan manusia.

“Jihad sejati,” tulis Quraish Shihab, “dimulai dari penaklukan diri sendiri.”
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya