Adab Rasulullah kepada Tetangga, Di Antaranya Tak Boleh Membiarkan Tetangga Kelaparan
Muhajirin
Jum'at, 08 Oktober 2021 - 22:25 WIB
Ilustrasi seorang muslimah memberikan makanan kepada tetangganya (foto: langit7.id/istock)
Dalam kehidupan sosial, setiap orang pasti memiliki tetangga kecuali ia tinggal di dalam hutan atau daerah yang amat terpencil. Dalam berinteraksi dengan tetangga, tidak boleh asal-asalan, ada adab yang harus dilakukan. Pakar Sejarah Islam, Ustadz Asep Sobari, menjelaskan akhlak Rasulullah SAW dalam bertetangga.
Saat hijrah ke Madinah, ia memiliki cukup banyak rumah. Sebab, setiap istri memiliki rumah masing-masing. Rumah Rasulullah dan para sahabat mengelilingi Masjid Nabawi. Misalnya Rumah Aisyah RA yang menempel dengan rumah Fatimah dan bersebelahan dengan rumah Ummu Salamah, lalu Abdurrahman bin Auf serta Utsman bin Affan. Dari arah yang berbeda, dekat dengan rumah Hafshah, Umar bin Khattab dan beberapa sahabat lainnya.
Baca Juga:Rasulullah Tak Pernah Marah karena Urusan Pribadi, Tapi Marah Saat Ajaran Islam Dicederai
Namun hal yang menarik adalah akhlak Rasulullah kepada para tetangga beliau. Ia adalah tetangga yang baik bagi tetangga-tetangganya. Baik tetangga dekat maupun yang jauh. Dalam Islam, tetangga tidak hanya mereka yang tinggal bersebelahan dengan rumahkita. Tetapi selama itu terjangkau dengan jangkauan yang wajar.
Bahkan, dikatakan sekitar 40 rumah ke sebelah kanan, kiri, belakang dan depan itu adalah tetangga. Beliau bersabda, sebagaimana diriwayatkan Aisyah RA: "Tidak henti-hentinya Jibril memberitakan kepada saya tentang tetangga sehingga saya mengira bahwa Jibril menetapkan hak waris bagi tetangga."
Rasulullah bertetangga dengan siapa pun dengan cara yang sangat baik. Maka tak heran jika beliau dikenal sebagai tetangga yang sangat menyenangkan. Begitu juga tetangga-tetangga Rasulullah memahami posisi beliau sebagai Nabi.
Baca Juga:Teladan Akhlak dan Cinta Rasulullah pada Anak-anak, Tak Pernah Menolak Keinginan Mereka
Saat hijrah ke Madinah, ia memiliki cukup banyak rumah. Sebab, setiap istri memiliki rumah masing-masing. Rumah Rasulullah dan para sahabat mengelilingi Masjid Nabawi. Misalnya Rumah Aisyah RA yang menempel dengan rumah Fatimah dan bersebelahan dengan rumah Ummu Salamah, lalu Abdurrahman bin Auf serta Utsman bin Affan. Dari arah yang berbeda, dekat dengan rumah Hafshah, Umar bin Khattab dan beberapa sahabat lainnya.
Baca Juga:Rasulullah Tak Pernah Marah karena Urusan Pribadi, Tapi Marah Saat Ajaran Islam Dicederai
Namun hal yang menarik adalah akhlak Rasulullah kepada para tetangga beliau. Ia adalah tetangga yang baik bagi tetangga-tetangganya. Baik tetangga dekat maupun yang jauh. Dalam Islam, tetangga tidak hanya mereka yang tinggal bersebelahan dengan rumahkita. Tetapi selama itu terjangkau dengan jangkauan yang wajar.
Bahkan, dikatakan sekitar 40 rumah ke sebelah kanan, kiri, belakang dan depan itu adalah tetangga. Beliau bersabda, sebagaimana diriwayatkan Aisyah RA: "Tidak henti-hentinya Jibril memberitakan kepada saya tentang tetangga sehingga saya mengira bahwa Jibril menetapkan hak waris bagi tetangga."
Rasulullah bertetangga dengan siapa pun dengan cara yang sangat baik. Maka tak heran jika beliau dikenal sebagai tetangga yang sangat menyenangkan. Begitu juga tetangga-tetangga Rasulullah memahami posisi beliau sebagai Nabi.
Baca Juga:Teladan Akhlak dan Cinta Rasulullah pada Anak-anak, Tak Pernah Menolak Keinginan Mereka