Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home sosok muslim detail berita

Rasulullah Tak Pernah Marah karena Urusan Pribadi, Tapi Marah Saat Ajaran Islam Dicederai

Muhajirin Kamis, 07 Oktober 2021 - 12:07 WIB
Rasulullah Tak Pernah Marah karena Urusan Pribadi, Tapi Marah Saat Ajaran Islam Dicederai
Kaligrafi Nabi Muhammad di sudut kota Istanbul (foto: Instagram/@shark023)
LANGIT7.ID - Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat mulia. Dia tidak pernah marah jika menyangkut masalah pribadi. Sangat mudah untuk memaafkan. Dia bisa melakukan itu, karena beliau adalah pria yang kuat. Dia dibela oleh Tuhan, dibela oleh para malaikat, dan dibela oleh orang-orang beriman.

Dalam Islam, ketika seseorang memiliki kekuatan untuk membalas seseorang yang menyakiti, maka akhlak yang terbaik adalah memaafkan.

“Itulah Rasulullah. Dia, jika dia mau, maka Malaikat gunung bahkan siap menerima perintahnya untuk menyerahkan dua gunung di Thaif kepada orang-orang yang menyakitinya. Tapi Rasulullah tidak mau dan tidak melakukannya,” kata sejarawan Islam, Ustadz Asep Sobari, melalui kanal youtube Komunitas Sirah, dikutip Kamis (10/7/2021).

Namun kepribadian Rasulullah akan berubah jika yang disentuh adalah agama Allah Ta'ala. Aisyah Radhiyallahu Anha menjelaskan, dia akan marah sebanyak yang dia bisa. Tidak ada yang mau menghentikan kemarahannya.

“Jadi Rasulullah SAW memiliki rasa marah, dan dia menyalurkan amarahnya dengan benar, yaitu ketika yang disentuh, yang ternoda adalah hukum Allah, agama Allah, maka dia akan marah,” katanya.

Rasulullah SAW pernah marah kepada Usamah bin Zaid, anak dari anak angkat yang sangat disayanginya. Usamah dalam satu perang membunuh seorang pria yang mengatakan bahwa dia adalah seorang Muslim yang putus asa. Pria itu membacakan dua kalimat syahadat setelah dipojokkan oleh Usamah.

Baca Juga: Teladan Akhlak dan Cinta Rasulullah pada Anak-anak, Tak Pernah Menolak Keinginan Mereka

Tapi Usamah tetap membunuh pria itu. Ia berdalih bahwa pria tersebut mengaku beragama Islam agar terhindar dari ancaman pedang Usamah.

Rasulullah SAW sangat marah ketika mendengar hal itu. "Bagaimana Anda bertanggung jawab di hadapan Allah dengan kalimat 'Laa ilaha illallah' yang orang itu katakan," kata Rasulullah.

Usamah membela diri, “Ya Rasulullah, dia berkata demikian karena ingin lepas dari ancaman pedangku”.

Nabi bersabda, “Apakah kamu telah membedah dadanya dan mengetahui isi hatinya? ”

Rasulullah marah, dan sangat marah pada orang yang sangat dia cintai. Begitulah Rasulullah SAW marah.

Rasulullah SAW mengajarkan umatnya bagaimana menahan amarah. Setidaknya ada lima hal yang harus dilakukan ketika seseorang sedang marah. Pertama, membaca kalimat ta’awudz.

Dari sahabat Sulaiman bin Surd meriwayatkan, “Suatu hari aku sedang duduk bersama Rasulullah SAW. Saat itu ada dua orang yang saling memaki. Yang satu mukanya merah dan urat lehernya memuncak.

Baca Juga: Cinta Rasulullah pada Fakir Miskin, Dahulukan Sedekah Sebelum Penuhi Kebutuhan Pribadi

Kemudian Nabi bersabda: “Sesungguhnya aku tahu ada sebuah kalimat, jika dibaca oleh orang ini, amarahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A-’uudzu billahi minas syaithaniir rajiim, amarahnya akan hilang”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kedua, cobalah untuk diam dan menepati janji Anda. Diam adalah tindakan mulia dan salah satu cara untuk mengantisipasi pecahnya amarah. Dari Ibnu Abbas, Nabi bersabda: “Jika kamu marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syu'aib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).

Rasulullah juga mengingatkan, “Sesungguhnya ada seorang hamba yang mengucapkan suatu kalimat, yang tidak terlalu dipikirkan dampaknya, melainkan dijebloskan ke dalam neraka yang sedalam timur dan barat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ketiga, ambil posisi yang lebih rendah. Kecenderungan orang marah adalah selalu ingin lebih tinggi, dan lebih tinggi. Semakin dia patuh, semakin dia ingin lebih tinggi. Dengan posisi yang lebih tinggi, dia bisa melampiaskan amarahnya sepuasnya.

Rasulullah bersabda: "Jika kamu marah, dan dia dalam posisi berdiri, dia harus duduk. Karena dengan itu kemarahannya bisa hilang. Jika belum hilang, dia harus mengambil posisi tidur." (HR. Ahmad, Abu Daud dan perawinya dinilai shahih oleh Syu'aib Al-Arnauth).

Keempat, ingat hadits ini ketika marah. Dari Muadz bin Anas Al-Juhani, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang berusaha menahan amarahnya, meskipun ia mampu untuk meluapkannya, maka ia akan dipanggil oleh Allah di hadapan semua makhluk pada hari kiamat, sampai Allah SWT berfirman. dia untuk memilih malaikat yang dia inginkan." (HR.Abu Daud, Turmudzi)

Kelima, segera berwudhu atau mandi. Kemarahan berasal dari iblis dan iblis diciptakan dari api. Maka orang yang marah dianjurkan untuk berwudhu atau mandi untuk memadamkan amarahnya. Dari Urwah As-Sa'di, Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya amarah itu dari setan, dan setan itu diciptakan dari api, dan api dapat dipadamkan dengan air. Jika kamu marah, ia harus berwudhu.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)