LANGIT7.ID - Dalam kehidupan sosial, setiap orang pasti memiliki tetangga kecuali ia tinggal di dalam hutan atau daerah yang amat terpencil. Dalam berinteraksi dengan tetangga, tidak boleh asal-asalan, ada adab yang harus dilakukan. Pakar Sejarah Islam, Ustadz Asep Sobari, menjelaskan akhlak Rasulullah SAW dalam bertetangga.
Saat hijrah ke Madinah, ia memiliki cukup banyak rumah. Sebab, setiap istri memiliki rumah masing-masing. Rumah Rasulullah dan para sahabat mengelilingi Masjid Nabawi. Misalnya Rumah Aisyah RA yang menempel dengan rumah Fatimah dan bersebelahan dengan rumah Ummu Salamah, lalu Abdurrahman bin Auf serta Utsman bin Affan. Dari arah yang berbeda, dekat dengan rumah Hafshah, Umar bin Khattab dan beberapa sahabat lainnya.
Baca Juga: Rasulullah Tak Pernah Marah karena Urusan Pribadi, Tapi Marah Saat Ajaran Islam DicederaiNamun hal yang menarik adalah akhlak Rasulullah kepada para tetangga beliau. Ia adalah tetangga yang baik bagi tetangga-tetangganya. Baik tetangga dekat maupun yang jauh. Dalam Islam, tetangga tidak hanya mereka yang tinggal bersebelahan dengan rumah kita. Tetapi selama itu terjangkau dengan jangkauan yang wajar.
Bahkan, dikatakan sekitar 40 rumah ke sebelah kanan, kiri, belakang dan depan itu adalah tetangga. Beliau bersabda, sebagaimana diriwayatkan Aisyah RA: "Tidak henti-hentinya Jibril memberitakan kepada saya tentang tetangga sehingga saya mengira bahwa Jibril menetapkan hak waris bagi tetangga."
Rasulullah bertetangga dengan siapa pun dengan cara yang sangat baik. Maka tak heran jika beliau dikenal sebagai tetangga yang sangat menyenangkan. Begitu juga tetangga-tetangga Rasulullah memahami posisi beliau sebagai Nabi.
Baca Juga: Teladan Akhlak dan Cinta Rasulullah pada Anak-anak, Tak Pernah Menolak Keinginan Mereka
Namun satu hal yang pasti, ada adab yang hanya berlaku pada Nabi SAW tidak berlaku pada orang lain, yakni setiap orang tidak boleh berbicara melebihi suara atau lebih keras dari suara Rasulullah. Begitu adab tetangga Rasulullah SAW kepada beliau.
“Hal itu dilakukan oleh para sahabat ketika beliau hidup sampai beliau wafat. Menyakiti tetangga itu adalah bagian dari penodaan terhadap iman,” kata Ustadz Asep Sobari melalui kanal youtube Komunitas Sirah, dikutip Jumat (8/10/2021).
Adab Rasulullah kepada para tetangga banyak termaktub dalam hadits. Adab-adab itu pula yang beliau perintahkan kepada umatnya. Penghargaan untuk kebaikan untuk tetangga kita karena kita menyukai itu untuk diri sendiri. Bergembira jika tetangga kita mendapat untung dan kebahagiaan, serta mengetahui sikap dengki.
Rasulullah mengajarkan dalam haditsnya, "Dan demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seseorang yang mencintai seseorang percaya dengan cinta untuk tetangganya, atau beliau berkata, untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR Muslim).
Baca Juga: Cinta Rasulullah pada Fakir Miskin, Dahulukan Sedekah Sebelum Penuhi Kebutuhan Pribadi
Saat bencana melanda tetangga, maka seyogyanya kita memberi bantuan materi maupun moril. Bisa juga dengan menghibur dan meringankan beban penderitaannya dengan nasihat dan tidak menampakan wajah gembira tatkala dia dirundung duka. Menjenguk ketika tetangga sakit dan mendoakan kesembuhan serta membantu pengobatan bila memang dibutuhkan.
Termasuk seorang mukmin tidak boleh membiarkan tetangganya kelaparan. Dalam banyak riwayat hadits, Rasulullah menekankan hal tersebut. Diantaranya:
"Bukanlah seorang Mukmin, orang yang kenyang sementaranya tetangganya kelaparan di sampingnya." (HR Bukhari).
Rasulullah juga memerintah umatnya untuk menghindari sikap yang dapat menyebabkan tetangga merasa tersakiti, baik berupa perbuatan maupun perkataan. Misalnya mencela, membeberkan aib di muka umum, dan memusuhi.
"Barangsiapa yang percaya kepada Allah dan hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya." (HR Bukhori).
Beliau juga memerintahkan untuk mengunjungi tetangga pada hari raya dan menyambut salam tetangga jika dia mengundang. "Hak Muslim atas Muslim yang lain ada lima; menjawab ucapan salam, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin." (HR Bukhari).
Bersikap toleran kepada tetangga selama bukan dalam perkara maksiat. Tidak mengeraskan suara yang dapat mengganggu tetangga. Rasulullah juga melarang umatnya membantu kikir terhadap tetangga yang membutuhkan bantuan, selama kita bisa membantunya.
Baca Juga: Shalawat Badar: Diciptakan KH Ali Mansur, Dipopulerkan Habib Ali Kwitang untuk Lawan PKI
"Janganlah salah satu diantara kalian melarang tetangganya untuk meletakkan kayu di tembok rumahnya." (HR Bukhari).
Sekali-kali tidak ada masalah jika memberikan hadiah kepada tetangga. Sebab, saling memberi hadiah akan menumbuhkan rasa cinta dan ukhuwah yang lebih dalam. "Jika suatu kali Anda memasak sayur, maka perbanyaklah kuahnya, kemudian perhatikanlah tetanggamu, dan berikanlah mereka sebagiannya dengan cara yang pantas." (HR Muslim).
Menundukkan pandangan terhadap aurat tetangga, dan tidak pula menguping pembicaraan mereka. Apalagi sampai mengintip ke dalam rumahnya tanpa seizinya untuk mengetahui aib mereka. Adab mulia lainnya adalah menghadapi dalam menghadapi gangguan tetangga, atau memilih pindah rumah jika memang hal itu mendukung.
Membalas kejahatan dengan perbuatan baik merupakan salah satu etika bertetangga yang diajarkan Islam. Nabi SAW bersabda, "Tiga golongan yang dicintai Allah… dan laki-laki yang memiliki tetangga yang adalah penyerangnya, kemudian menghadapi tetangganya dengan baik hingga Allah memisahkan mereka." (HR Ahmad).
(jqf)