Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 02 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Shalawat Badar: Diciptakan KH Ali Mansur, Dipopulerkan Habib Ali Kwitang untuk Lawan PKI

Muhajirin Jum'at, 08 Oktober 2021 - 19:07 WIB
Shalawat Badar: Diciptakan KH Ali Mansur, Dipopulerkan Habib Ali Kwitang untuk Lawan PKI
Monumen bertuliskan shalawat badar di makam KH Ali Mansur di Tuban, Jawa Timur (foto: laduni.id)
LANGIT7.ID - Shalawat Badar adalah salah satu shalawat yang populer bagi umat Islam di Indonesia bahkan di berbagai belahan dunia. Shalawat itu berisi syair pujian-pujian kepada Rasulullah SAW dan Ahli Badar atau para sahabat generasi awal yang ikut berperang serta menjadi syuhada dalam perang Badar.

Siapa sangka, shalawat yang populer dilantunkan di banyak negara ini digubah oleh seorang ulama dari Indonesia. Shalawat Badar digubah oleh KH Ali Mansur, salah seorang cucu KH Muhammad Shiddiq Jember pada era 1960-an. Kala itu, Kiai Ali menjabat kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi sekaligus ketua Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama di daerah tersebut.

Baca Juga: Shalawat Mansub, Ijazah Habib Sholeh Tanggul saat Hadapi Kesulitan

Mengutip laman resmi Ponpes Lirboyo, proses terciptanya Shalawat Badar penuh teka-teki. Diceritakan, pernah suatu ketika Kiai Ali merasa gelisah hingga tak bisa tidur. Ia memikirkan situasi politik yang tengah memanas kala itu. Kala itu orang PKI kian leluasa mendominasi kekuasaan. PKI secara terang-terangan memusuhi masyarakat NU. Bahkan banyak kiai-kiai NU menjadi korban kezaliman mereka.

Kiai Ali tak mengerti apa yang tengah menimpa dirinya. Ia terus-menerus merasa gelisah. Terlebih pada malam sebelumnya dia bermimpi didatangi beberapa orang yang berjubah putih. Semakin mengherankan lagi, pada malam yang sama istri beliau, Nyai Khotimah binti H. Ahmad Faqieh, bermimpi bertemu Rasulullah.

Baca Juga: Rahasia di Balik Shalawat saat Shalat, Kenapa Nama Nabi Ibrahim Disebut?

Pada keesokan harinya, Kiai Ali memutuskan sowan ke Habib Hadi Al-Haddar Banyuwangi. Ia menanyakan makna mimpi tersebut. “Itu ahli Badar, ya Akhi,” jawab Habib Hadi.

Peristiwa itu menginspirasi beliau untuk menggubah syair. Ia memang dikenal sebagai ulama yang pandai bersyair. Sambil merenung, ia memainkan pena di atas kertas, menulis bait-bait syair dalam bahasa Arab.

Peristiwa aneh itu ternyata tak berhenti. Keesokan harinya tetangga beliau datang membawa aneka ragam sayur-mayur, daging, dan beras seperti akan ada hajatan besar di rumah beliau. Mereka mengaku didatangi orang berjubah putih yang memberi kabar, di rumah Kiai Ali akan ada kegiatan besar. Mereka diminta membantu sesuai kemampuan.

Kiai Ali makin penasaran dan bertanya-tanya perihal orang yang berbaju putih itu. Hingga pada malam hari, para tetangga beliau sibuk di dapur seolah akan datang tamu. Sampai malam itu pula, tidak ada satupun orang yang tahu, masakan yang mereka buat untuk acara apa.

Sampai menjelang matahari terbit, datang gerombolan berjubah putih-hijau. Mereka adalah rombongan habib yang dipimpin oleh Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi atau Habib Ali Kwitang dari Jakarta.

Baca Juga: Habib Ali Kwitang, Ulama Penentu Tanggal Proklamasi Kemerdekaan

Kiai Mansur sangat bergembira dengan kedatangan rombongan itu. Usai berbincang-bincang, Habib Ali Kwitang menanyakan hal tak terduga kepada Kiai Mansur. “Ya Akhi, mana syair yang antum buat kemarin? Tolong antum bacakan dan lagukan di hadapan kami-kami ini.”

Kiai Ali terkejut. Tidak ada orang yang memberitahu perihal syair yang ia tulis. Namun, ia menganggap itu merupakan karomah dari Allah Ta’ala.

Ia segera mengambil kertas yang berisi shalawat badar lalu membacakannya di hadapan para tamu. Suara Kiai Ali yang merdu membuat para tamu mendengarkan dengan khusyuk hingga meneteskan air mata.

Selesai mendengarkan Shalawat Badar yang dialunkan oleh Kiai Ali Mansur, Habib Ali Kwitang segera bangkit. “Ya Akhi! Mari kita perangi genjer-genjer PKI itu dengan Shalawat Badar!” serunya dengan nada mantap. Sejak saat itu, shalawat badar menjadi bacaan wajib bagi masyarakat NU.

Baca Juga: Sejarah G30S PKI, Momen Ummat Islam Gaungkan Shalawat Badar

Tercatat dalam buku kecil Kiai Ali, kejadian tersebut pada hari Rabu, 26 September 1962 sekitar pukul 08.00 pagi. Pada kesempatan itu dibacakan Maulid al-‘Azab dan ceramah agama. Diantara yang memberikan ceramah adalah Habib Ali al-Habsyi Kwitang, Habib Muhammad bin Ali al-Habsyi Kwitang dan Habib Salim Bin Jindan.

Dalam rombongan tersebut ikut diantaranya Habib Ali bin Husein Al Attas Bungur, Habib Ahmad bin Ghalib al-Hamid Surabaya, Habib Umar Assegaf Semarang dan banyak lagi yang lainnya para pembesar ulama pada waktu itu.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 02 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)