home masjid

Paradoks Kedamaian: Mengapa Stabilitas Keamanan Menjadi Penanda Kiamat?

Jum'at, 30 Januari 2026 - 05:15 WIB
Stabilitas keamanan bukan sekadar pencapaian politik atau militer, melainkan sebuah variabel dalam jam pasir waktu kosmik. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Dalam narasi populer tentang akhir dunia, kita sering kali disuguhi gambaran kekacauan, perang, dan anarki. Namun, eskatologi Islam menawarkan sudut pandang yang kontraintuitif. Salah satu penanda mendekatnya kiamat justru adalah tersebarnya stabilitas keamanan yang luar biasa di wilayah-wilayah yang secara historis rawan konflik.

Awadh bin Ali bin Abdullah dalam Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra membedah fenomena kemapanan keamanan ini sebagai bagian dari kepingan puzzle menuju hari akhir.

Laporan yang dirilis oleh Maktab Dakwah Rabwah ini mengutip sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang dicatat oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan sebuah gambaran perjalanan yang sangat damai:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ بَيْنَ الْعِرَاقِ وَمَكَّةَ لاَ يَخَافُ إِلاَّ ضَلاَلَ الطَّرِيقِ

Artinya, tidak akan terjadi kiamat hingga seseorang pengendara berjalan di antara Irak dan Mekkah tidak merasa takut kecuali takut tersesat di jalan.

Kalimat ini mencerminkan sebuah kondisi di mana ancaman kriminalitas, perampokan jalanan, atau gangguan keamanan dari kelompok bersenjata telah sirna sepenuhnya. Satu-satunya kecemasan yang tersisa bagi seorang musafir hanyalah teknis navigasi atau risiko tersesat.

Interpretasi Awadh bin Ali memberikan perspektif sejarah yang kuat. Pada masa hadits ini diucapkan, jalur antara Irak dan Mekkah adalah rute yang penuh risiko. Hamparan padang pasir yang luas menjadi sarang bagi para penyamun, menjadikannya perjalanan yang mempertaruhkan nyawa. Ketika Nabi menjanjikan keamanan mutlak di jalur tersebut, hal itu terdengar seperti sebuah utopia bagi masyarakat abad ke-7.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya