Soal Tragedi Ngada, Pakar Unair: Tekanan Ekonomi Picu Krisis Psikologis Anak Pedesaan
Esti setiyowati
Jum'at, 06 Februari 2026 - 18:30 WIB
Ilustrasi anak pedesaan. Foto: Ist
Peristiwa tragis yang menimpa siswa kelas IV SD, YBR, di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) menggemparkan Indonesia. Anak berusia 10 tahun itu diduga menggantungkan diri di pohon cengkeh di dekat rumah sang nenek.
Menurut keterangan warga, kematian YBR dipicu dari ketidakmampuan keluarganya membeli peralatan tulis untuk sekolah.
Tragedi ini mengundang perhatian banyak pihak, termasuk ahli sosial. Guru Besar FISIP Universitas Airlangga (Unair) Prof Bagong Suyanto menyoroti pentingnya memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan mental anak-anak, terutama dalam lingkungan sosial yang penuh tekanan.
Baca juga: Gubernur NTT Akui Kegagalan Sistem Atas Kematian Siswa SD di Ngada
Prof Bagong mengungkapkan bahwa peristiwa seperti ini seharusnya menjadi alarm bagi masyarakat akan pentingnya pemantauan kondisi psikologis anak-anak di lingkungan sekitar.
“Anak-anak yang tinggal di daerah terpencil seringkali kurang mendapatkan perhatian penuh terhadap aspek psikologis mereka, terutama di lingkungan pedesaan. Juga kurangnya akses terhadap layanan psikologis membuat anak-anak merasa terisolasi dan tidak memiliki dukungan yang cukup,” kata Prof Bagong seperti dikutip dari laman resmi Unair, Jumat (6/2/2026).
Menurut Prof Bagong, keluarga dan lingkungan sekitar berperan dalam mengenali tanda-tanda adanya masalah emosional dan psikologis pada anak.
Menurut keterangan warga, kematian YBR dipicu dari ketidakmampuan keluarganya membeli peralatan tulis untuk sekolah.
Tragedi ini mengundang perhatian banyak pihak, termasuk ahli sosial. Guru Besar FISIP Universitas Airlangga (Unair) Prof Bagong Suyanto menyoroti pentingnya memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan mental anak-anak, terutama dalam lingkungan sosial yang penuh tekanan.
Baca juga: Gubernur NTT Akui Kegagalan Sistem Atas Kematian Siswa SD di Ngada
Prof Bagong mengungkapkan bahwa peristiwa seperti ini seharusnya menjadi alarm bagi masyarakat akan pentingnya pemantauan kondisi psikologis anak-anak di lingkungan sekitar.
“Anak-anak yang tinggal di daerah terpencil seringkali kurang mendapatkan perhatian penuh terhadap aspek psikologis mereka, terutama di lingkungan pedesaan. Juga kurangnya akses terhadap layanan psikologis membuat anak-anak merasa terisolasi dan tidak memiliki dukungan yang cukup,” kata Prof Bagong seperti dikutip dari laman resmi Unair, Jumat (6/2/2026).
Menurut Prof Bagong, keluarga dan lingkungan sekitar berperan dalam mengenali tanda-tanda adanya masalah emosional dan psikologis pada anak.