Ramadhan Bercahaya
Merekonstruksi Budaya Ilmu di Tengah Kepungan Diabolisme
Esti setiyowati
Senin, 09 Maret 2026 - 06:00 WIB
Merekonstruksi Budaya Ilmu di Tengah Kepungan Diabolisme. Foto: RDK UGM.
Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations, Syamsuddin Arif, menyampaikan tausiyah di Masjid Kampus UGM, Yogyakarta, pada Ahad (8/3/2026).
Dalam ceramahnya dimimbar Ramadhan Public Lecture, ia mengangkat tema “Merekonstruksi Budaya Ilmu di Tengah Kepungan Diabolisme”, yang menyoroti bagaimana pengaruh kejahatan dan tipu daya setan dapat memengaruhi cara berpikir manusia, termasuk dalam kehidupan sosial dan intelektual.
Syamsuddin menjelaskan bahwa Al-Qur'an berulang kali mengingatkan manusia tentang keberadaan setan sebagai musuh yang nyata. Ia menyebutkan bahwa kata “setan” disebutkan sebanyak 88 kali dalam Al-Qur’an, sedangkan kata yang merujuk pada iblis muncul sebanyak 11 kali.
Baca juga: Tausiyah di UGM, Mahfud MD Singgung Oligarki dan Turunnya Kualitas Demokrasi
Menurut Syamsuddin, penting bagi umat Islam memahami perbedaan antara iblis dan setan. Para ulama, kata dia, menjelaskan bahwa iblis adalah nama individu, sementara setan merupakan kategori yang lebih luas.
“Iblis itu setan, tetapi setan belum tentu iblis. Ada setan yang bukan iblis,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia kemudian mengutip sebuah hadis Nabi Muhammad SAWyangberpesan agar manusia berlindung kepada Allah dari setan yang berasal dari golongan jin maupun manusia.
Dalam ceramahnya dimimbar Ramadhan Public Lecture, ia mengangkat tema “Merekonstruksi Budaya Ilmu di Tengah Kepungan Diabolisme”, yang menyoroti bagaimana pengaruh kejahatan dan tipu daya setan dapat memengaruhi cara berpikir manusia, termasuk dalam kehidupan sosial dan intelektual.
Syamsuddin menjelaskan bahwa Al-Qur'an berulang kali mengingatkan manusia tentang keberadaan setan sebagai musuh yang nyata. Ia menyebutkan bahwa kata “setan” disebutkan sebanyak 88 kali dalam Al-Qur’an, sedangkan kata yang merujuk pada iblis muncul sebanyak 11 kali.
Baca juga: Tausiyah di UGM, Mahfud MD Singgung Oligarki dan Turunnya Kualitas Demokrasi
Menurut Syamsuddin, penting bagi umat Islam memahami perbedaan antara iblis dan setan. Para ulama, kata dia, menjelaskan bahwa iblis adalah nama individu, sementara setan merupakan kategori yang lebih luas.
“Iblis itu setan, tetapi setan belum tentu iblis. Ada setan yang bukan iblis,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia kemudian mengutip sebuah hadis Nabi Muhammad SAWyangberpesan agar manusia berlindung kepada Allah dari setan yang berasal dari golongan jin maupun manusia.