Ramadhan Bercahaya
Menakar Efisiensi Belanja Pembangunan Manusia
Esti setiyowati
Selasa, 10 Maret 2026 - 06:13 WIB
Menakar Efisiensi Belanja Pembangunan Manusia. Foto: RDK UGM.
Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Senin malam (9/3/2026), dipenuhi jamaah yang mengikuti rangkaian Ramadhan Public Lecture. Dalam kesempatan itu, Ketua Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), Elan Satriawan, menyampaikan tausiyah bertajuk “Menakar Efisiensi Belanja Pembangunan Manusia Indonesia.”
Kuliah Ramadhan tersebut tidak hanya mengulas persoalan kebijakan publik, tetapi juga mengaitkannya dengan nilai-nilai Islam tentang amanah kepemimpinan dan pengelolaan negara.
Dalam pengantarnya, Elan mengangkat contoh evaluasi terhadap salah satu program pemerintah yang sudah berjalan lama, yakni sertifikasi guru. Program tersebut dirancang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru.
Baca juga:Merekonstruksi Budaya Ilmu di Tengah Kepungan Diabolisme
Dalam skemanya, guru-guru diidentifikasi kemampuan profesionalnya, kemudian mengikuti pelatihan dan proses sertifikasi. Jika lulus, mereka memperoleh insentif yang signifikan, bahkan berupa tambahan penghasilan setara satu kali gaji.
“Melalui program ini kesejahteraan guru memang meningkat. Namun tujuan utamanya adalah meningkatkan capaian prestasi belajar siswa. Sayangnya tujuan utama tersebut tidak tercapai secara signifikan,” ujar Elan.
Temuan ini memunculkan pertanyaan mendasar, mengapa program dengan tujuan baik, alokasi anggaran besar, dan dukungan kebijakan kuat tidak selalu menghasilkan dampak yang diharapkan?
Kuliah Ramadhan tersebut tidak hanya mengulas persoalan kebijakan publik, tetapi juga mengaitkannya dengan nilai-nilai Islam tentang amanah kepemimpinan dan pengelolaan negara.
Dalam pengantarnya, Elan mengangkat contoh evaluasi terhadap salah satu program pemerintah yang sudah berjalan lama, yakni sertifikasi guru. Program tersebut dirancang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru.
Baca juga:Merekonstruksi Budaya Ilmu di Tengah Kepungan Diabolisme
Dalam skemanya, guru-guru diidentifikasi kemampuan profesionalnya, kemudian mengikuti pelatihan dan proses sertifikasi. Jika lulus, mereka memperoleh insentif yang signifikan, bahkan berupa tambahan penghasilan setara satu kali gaji.
“Melalui program ini kesejahteraan guru memang meningkat. Namun tujuan utamanya adalah meningkatkan capaian prestasi belajar siswa. Sayangnya tujuan utama tersebut tidak tercapai secara signifikan,” ujar Elan.
Temuan ini memunculkan pertanyaan mendasar, mengapa program dengan tujuan baik, alokasi anggaran besar, dan dukungan kebijakan kuat tidak selalu menghasilkan dampak yang diharapkan?