Silaturahmi Lintas Negara
Lebaran di Kairo, Kisah Pelajar RI Menyaksikan Muhsinin Mesir Berbagi Iftar hingga THR
Idulfitri selalu menjadi momen yang paling dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Hari kemenangan itu bukan hanya tentang berakhirnya puasa Ramadhan, tetapi juga tentang berkumpulnya keluarga, saling memaafkan, dan merajut kembali tali silaturahmi. Di setiap negeri Muslim, Lebaran memiliki warna dan tradisinya masing-masing.
Hal itulah yang dirasakan oleh Mukhlis Ibadurrahman, seorang pelajar asal Bogor, Jawa Barat, yang kini menempuh pendidikan di Mesir. Tahun ini menjadi tahun keempat baginya menjalani Ramadhan sekaligus merayakan Idulfitri di negeri yang dikenal sebagai Negeri Seribu Menara.
Mukhlis saat ini tengah merampungkan studi di Ma’had Bu’uts Al Azhar Al-Islamiyyah, sebuah lembaga pendidikan formal setingkat SMP hingga SMA yang berada di bawah naungan Universitas Al-Azhar. Selama tinggal di Kairo, ia merasakan bahwa kehidupan masyarakat Mesir sangat kental dengan nilai-nilai Islam.
Baca juga: Cerita Dua Mahasiswa Indonesia di Negeri Dua Benua, Lewati Malam Takbir dalam Kesunyian
“Mesir merupakan negara mayoritas Muslim, jadi budaya Islam di sini nggak bikin aku culture shock,” kata pemuda berusia 19 tahun itu.
Suasana Ramadhan di Mesir, menurut Mukhlis, tidak jauh berbeda dengan yang ia rasakan di Indonesia. Lantunan adzan terdengar dari berbagai penjuru kota, sementara para jamaah tampak bergegas menuju masjid untuk merapatkan shaf shalat berjamaah.
Namun ada satu tradisi yang membuatnya sangat terkesima, yakni budaya kedermawanan masyarakat Mesir selama bulan suci. Di hampir setiap sudut Kota Kairo, para dermawan atau muhsinin menyediakan hidangan berbuka puasa gratis bagi siapa saja yang membutuhkan.
“Di sini ada budaya yang membuat aku kaget. Orang-orang di sini banyak yang berbagi makanan saat Ramadhan. Setiap mau berbuka di segala penjuru Kota Kairo banyak orang yang menyediakan tempat dan makanan untuk berbuka,” ujar Mukhlis.
Para muhsinin biasanya menyiapkan meja dan bangku di tepi jalan atau di sudut-sudut kota. Tempat tersebut menjadi ruang singgah bagi para pekerja, musafir, hingga pelajar perantau untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas seharian.
Keterangan foto: Menu berbuka puasa yang disediakan oleh para muhsinin di Kairo. Foto: dok pribadi
Ketika adzan Maghrib berkumandang, makanan berat langsung disajikan secara prasmanan. Hidangannya beragam, mulai dari olahan daging unta hingga nasi mandi yang kaya rempah.
“Di sudut-sudut Kota Kairo, para muhsinin menyediakan satu tempat dengan meja dan bangku untuk kita melepas lelah. Ketika adzan Maghrib berkumandang, mereka memberikan makanan berat dan kita makan di situ. Makanannya berbentuk prasmanan,” jelas anak kedua dari dua bersaudara ini.
Baca juga: Di Tengah Konflik Iran-Israel, Mahasiswa Indonesia di Yordania Jalani Ramadhan dengan Tenang
Bagi Mukhlis yang hidup jauh dari keluarga, tradisi berbagi ini sangat membantu. Ia bahkan mengaku tidak pernah memasak selama Ramadhan karena hampir setiap hari mendapatkan makanan berbuka secara gratis.
“Bantuan ini gratis dan setiap hari. Aku pun selama Ramadhan tidak pernah masak sama sekali, karena banyak bantuan dari warga di sini,” tuturnya.
Meski begitu, rasa rindu terhadap kuliner Nusantara tetap tak bisa dihindari. Mukhlis bercerita bahwa di salah satu distrik di Kairo ada pedagang yang menjual takjil khas Indonesia seperti bakwan, risol, dan dadar gulung. Para penjualnya adalah pekerja migran Indonesia.
Namun harga makanan tersebut cukup mahal sehingga ia jarang membelinya.
“Sebenarnya di salah satu distrik di Kairo ini ada yang menjual takjil ala Indonesia seperti bakwan, risol, dadar gulung. Penjualnya adalah para TKI di sini. Tapi harganya memang sedikit mahal,” katanya.
Selain perbedaan kuliner, Mukhlis juga pernah mengalami pengalaman unik pada tahun pertama berpuasa di Mesir. Saat itu Ramadhan bertepatan dengan musim panas sehingga durasi puasa bisa mencapai sekitar 16 jam.
Namun pengalaman paling menarik baginya justru datang ketika Idulfitri tiba.
Berbeda dengan Indonesia yang biasanya memiliki masa libur panjang menjelang Lebaran, di Mesir masyarakat tidak mendapatkan libur khusus sebelum hari raya.