Ramadhan Bercahaya
Irfan Afifi: Islam di Tanah Jawa Dibangun dari Ma’rifat, Bukan Sekadar Fiqih
Esti setiyowati
Sabtu, 14 Maret 2026 - 10:32 WIB
Irfan Afifi: Islam di Tanah Jawa Dibangun dari Marifat, Bukan Sekadar Fiqih. Foto: tangkapan layar.
Pembicaraan tentang Islam di Tanah Jawa tidak bisa dilepaskan dari dimensi kebudayaan dan spiritualitas yang membentuk cara masyarakat memahami agama.
Dalam konteks itu, budayawan Irfan Afifi menilai bahwa proses Islamisasi di Jawa pada masa awal justru menekankan kedalaman spiritual dan kemanusiaan, bukan sekadar aspek hukum formal.
Pandangan tersebut ia sampaikan dalam diskusi bertema “Menelusuri Jejak Resonansi Islam di Tanah Jawa” pada rangkaian RDK Festival 1447 Hijriah, yang diselenggarakan oleh Jama'ah Shalahuddin UGM pada Jumat (13/3/2026) di lingkungan Universitas Gadjah Mada.
Baca juga: Salim A Fillah: Islam di Tanah Jawa Tumbuh Lewat Resonansi Budaya, Bukan Dominasi
Menurut Irfan, salah satu persoalan mendasar dalam wacana kebudayaan saat ini adalah penggunaan istilah “kearifan lokal” yang dinilainya problematis.
Irfan Afifi menyatakan bahwa ia tidak sepenuhnya setuju dengan istilah local wisdom yang sering diterjemahkan menjadi “kearifan lokal”.
“Apakah ketika kita punya kearifan itu harus bernilai lokal? Lalu kalau Amerika punya kearifan, apakah tidak disebut lokal? Ini menjadi tidak adil,” ujarnya.
Dalam konteks itu, budayawan Irfan Afifi menilai bahwa proses Islamisasi di Jawa pada masa awal justru menekankan kedalaman spiritual dan kemanusiaan, bukan sekadar aspek hukum formal.
Pandangan tersebut ia sampaikan dalam diskusi bertema “Menelusuri Jejak Resonansi Islam di Tanah Jawa” pada rangkaian RDK Festival 1447 Hijriah, yang diselenggarakan oleh Jama'ah Shalahuddin UGM pada Jumat (13/3/2026) di lingkungan Universitas Gadjah Mada.
Baca juga: Salim A Fillah: Islam di Tanah Jawa Tumbuh Lewat Resonansi Budaya, Bukan Dominasi
Menurut Irfan, salah satu persoalan mendasar dalam wacana kebudayaan saat ini adalah penggunaan istilah “kearifan lokal” yang dinilainya problematis.
Irfan Afifi menyatakan bahwa ia tidak sepenuhnya setuju dengan istilah local wisdom yang sering diterjemahkan menjadi “kearifan lokal”.
“Apakah ketika kita punya kearifan itu harus bernilai lokal? Lalu kalau Amerika punya kearifan, apakah tidak disebut lokal? Ini menjadi tidak adil,” ujarnya.