Maulid Barzanji, Syair Shalawat Karya Ulama Kurdi yang Populer di Nusantara
Muhajirin
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 12:42 WIB
Ilustrasi pembacaan maulid Barzanji dalam peringatan maulid Nabi Muhammad SAW (foto: ppid.bengkaliskab.go.id)
Maulid al-Barzanji sangat akrab dan sangat terkenal kampung-kampung di Pulau Jawa. Tradisi pembacaan kisah kenabian itu hanya dilakukan pada bulan maulid (Rabi’ul Awal) tahun Hijriyah. Namun tak banyak yang tahu bahwa maulid ini dikarang oleh seorang ulama dengan etnis kurdi,bukan etnis dari bangsa arab terlebih Yaman.
Wakil Kepala Abdurrahman Wahid Center Universitas Indonesia (UI) Zacky Khaerul Umam mengatakan, kepopuleran teks bacaan kisah Nabi Muhammad SAW itu berasal dari pesantren-pesantren di Tanah Jawa. Para kiai menjadikan teks bacaan itu sebagai salah satu rutinitas para santri.
“Besar kemungkinan para kiai di pesantren-pesantren Jawa menjadikan teks itu sebagai ruang untuk membangun religiusitas,” kata Zacky di blog pribadinya dikutip Sabtu (16/10/2021).
Menilik ke belakang, kata Zacky, tiga hingga empat ratus tahun lampau, keterkaitan mazhab dan tarekat sufi menjadi sebab sebuah teks tersebar dan diamalkan sebagai bacaan dalam ritual publik. Termasuk pembacaan teks Barzanji. Jika Burdah secara historis mengacu pada dunia Laut Tengah, maka Barzanji merupakan teks maulid di Samudera Hindia.
Baca Juga:Sejarah Shalawat Burdah: Ditulis Imam Busyiri saat Lumpuh, Sembuh Setelah Bermimpi Jumpa Nabi
“Teks ini terkenal dan dibaca dari Afrika hingga Indonesia, khususnya di dalam tradisi kaum bermazhab Syafi’i,” ucap Zacky.
Zacky lalu mengisahkan pengarang Barzanji. Sedikit yang tahu jika pengarang Barzanji adalah seorang sayyid, keturunan Nabi Muhammad SAW di wilayah Kurdistan yang hari ini jadi wilayah otonomi Irak. Pengarang barzanji, Ja’far bin hasan bin Abdulkarim bin Muhammad bin Abdurrasul Al-Barzanji adalah keturunan keluarga intelektual-aktivis nomor wahid pada masa kekhilafahan Turki Utsmani.
Wakil Kepala Abdurrahman Wahid Center Universitas Indonesia (UI) Zacky Khaerul Umam mengatakan, kepopuleran teks bacaan kisah Nabi Muhammad SAW itu berasal dari pesantren-pesantren di Tanah Jawa. Para kiai menjadikan teks bacaan itu sebagai salah satu rutinitas para santri.
“Besar kemungkinan para kiai di pesantren-pesantren Jawa menjadikan teks itu sebagai ruang untuk membangun religiusitas,” kata Zacky di blog pribadinya dikutip Sabtu (16/10/2021).
Menilik ke belakang, kata Zacky, tiga hingga empat ratus tahun lampau, keterkaitan mazhab dan tarekat sufi menjadi sebab sebuah teks tersebar dan diamalkan sebagai bacaan dalam ritual publik. Termasuk pembacaan teks Barzanji. Jika Burdah secara historis mengacu pada dunia Laut Tengah, maka Barzanji merupakan teks maulid di Samudera Hindia.
Baca Juga:Sejarah Shalawat Burdah: Ditulis Imam Busyiri saat Lumpuh, Sembuh Setelah Bermimpi Jumpa Nabi
“Teks ini terkenal dan dibaca dari Afrika hingga Indonesia, khususnya di dalam tradisi kaum bermazhab Syafi’i,” ucap Zacky.
Zacky lalu mengisahkan pengarang Barzanji. Sedikit yang tahu jika pengarang Barzanji adalah seorang sayyid, keturunan Nabi Muhammad SAW di wilayah Kurdistan yang hari ini jadi wilayah otonomi Irak. Pengarang barzanji, Ja’far bin hasan bin Abdulkarim bin Muhammad bin Abdurrasul Al-Barzanji adalah keturunan keluarga intelektual-aktivis nomor wahid pada masa kekhilafahan Turki Utsmani.