LANGIT7.ID - Maulid al-Barzanji sangat akrab dan sangat terkenal kampung-kampung di Pulau Jawa. Tradisi pembacaan kisah kenabian itu hanya dilakukan pada bulan maulid (Rabi’ul Awal) tahun Hijriyah. Namun tak banyak yang tahu bahwa maulid ini dikarang oleh seorang ulama dengan etnis kurdi,bukan etnis dari bangsa arab terlebih Yaman.
Wakil Kepala Abdurrahman Wahid Center Universitas Indonesia (UI) Zacky Khaerul Umam mengatakan, kepopuleran teks bacaan kisah Nabi Muhammad SAW itu berasal dari pesantren-pesantren di Tanah Jawa. Para kiai menjadikan teks bacaan itu sebagai salah satu rutinitas para santri.
“Besar kemungkinan para kiai di pesantren-pesantren Jawa menjadikan teks itu sebagai ruang untuk membangun religiusitas,” kata Zacky di blog pribadinya dikutip Sabtu (16/10/2021).
Menilik ke belakang, kata Zacky, tiga hingga empat ratus tahun lampau, keterkaitan mazhab dan tarekat sufi menjadi sebab sebuah teks tersebar dan diamalkan sebagai bacaan dalam ritual publik. Termasuk pembacaan teks Barzanji. Jika Burdah secara historis mengacu pada dunia Laut Tengah, maka Barzanji merupakan teks maulid di Samudera Hindia.
Baca Juga: Sejarah Shalawat Burdah: Ditulis Imam Busyiri saat Lumpuh, Sembuh Setelah Bermimpi Jumpa Nabi
“Teks ini terkenal dan dibaca dari Afrika hingga Indonesia, khususnya di dalam tradisi kaum bermazhab Syafi’i,” ucap Zacky.
Zacky lalu mengisahkan pengarang Barzanji. Sedikit yang tahu jika pengarang Barzanji adalah seorang sayyid, keturunan Nabi Muhammad SAW di wilayah Kurdistan yang hari ini jadi wilayah otonomi Irak. Pengarang barzanji, Ja’far bin hasan bin Abdulkarim bin Muhammad bin Abdurrasul Al-Barzanji adalah keturunan keluarga intelektual-aktivis nomor wahid pada masa kekhilafahan Turki Utsmani.
Kakek buyut beliau, Muhammad bin Abdurrasul al-Barzanji pindah dari Barzanjah, Kurdistan ke Madinah mengikuti pola migrasi ulama Kurdi. Sebagian pindah karena depopulasi akibat persinggungan dengan Imperium Safawi di perbatasan. Sebab lain karena studi dan karir di provinsi Arab wilayah Imperium Utsmani menjanjikan.
Muhammad bin Abdurrasul pindah ke Madinah pada 1657 dan berguru kepada Syekh Ahmad al-Qusyasyidan Ibrahim al-Kurani. Pada akhir dekade 1650-an, ia banyak bertemu dengan wazir dan petinggi Utsmani di Damaskus dan Istanbul.
Baca Juga: Shalawat Mansub, Ijazah Habib Sholeh Tanggul saat Hadapi Kesulitan
Sang kakek buyut ini merupakan aktivis garda depan Front Pembela Mazhab Madinah dari berbagai serangan dan polemik yang terjadi dari Eropa hingga India, terutama soal iklim gerakan Yahudi dan islam yang tidak sesuai dengan konsep Sunni. Ia juga membela Ibrahim al-Kurani dari berbagai tudingan dan fatwa hukum mati yang dijatuhkan sekelompok ulama Maghreb dan Afrika atas Kurani.
Jika Kurani aktif menulis dan mengajar di Madinah, Muhammad Barzanji sangat aktif ikut dalam pergerakan lintas-benua, menemui petinggi di Bab-i Ali Istanbul hingga Aurangzeb sang Kaisar Mughal dan Sultanah Safiyatuddin di Aceh.
Bahkan dalam perang Utsmani melawan Imperium Habsburg di perbatasan Wina pada akhir 1680-an, sang kakek buyut ini aktif berpartisipasi. Salah satu puisinya Al-Qasidah al-Alamiyyah al-bilghradiyyah dikarang sebagai elegi atas heroisme serdadu Utsamni.
Sebenarnya si kakek buyut ini adalah penerus Kurani, sebab ia lebih muda, namun meninggal setahun sekembali dari ‘Perang Suci’ melawan kafir Eropa. Jadi, ia hanya meneruskan ‘tongkat Kurani’ setahun saja. Maka tongkat estafet Zawiyyah Qusyasyiyyah dialihkan ke anak Kurani, Abu Tahir.
Baca Juga: Shalawat Badar: Diciptakan KH Ali Mansur, Dipopulerkan Habib Ali Kwitang untuk Lawan PKI
Keluarga Kurani (Qusyasyi) dan Barzanji adalah keluarga dekat yang terus menjalin persekutuan cukup lama. Setidaknya hingga abad ke-18 catatan soal dua keluarga ada. Pada pernikahan cucu Kurani, Ibrahim bin Abu Tahir bin Ibrahim al-Kurani, yang memberikan khutbah nikah adalah Hasan bin Abdul karim al-Barzanji.
Hasan memberikan testimoni penting mengenai prestasi intelektual Kurani pada abad ke-17 dengan mengutip nama Aristoteles, al-Farabi, Hermes Trismegistus, dan sederet pemikir muslim klasik. Kedekatan keluarga ini yang menjadi kekuatan utama pemikiran Qusyasyi serta kiprah keluarga Barzanji di Madinah bergaung hingga ke Nusantara.
Ulama Nusantara adalah murid loyalis dari mazhab madinah. Maka dari itu, tak heran jika ulah kekerasan wahabi pada akhir abad ke-18 diceritakan pada kunjungan cicit Qusyasyi ke Kesultanan Bone, Makassar pada abad ke-19.
Boleh dibilang, hubungan Arabia-Nusantara pada abad ke-17 hingga awal abad ke-20 sangat sangat erat. Jika di India pada abad ke-19 ada pengikut Sirhindi yang berpolemik dengan pemikiran Muhammad al-Barzanji yang memang mengkritik keras ajaran dan pengikut Sirhindi pada masanya, maka di Nusantara tidak demikian. Mereka taat dan patuh pada mazhab Madinah tersebut. Maka tak heran jika Maulid al-Barzanji menjadi terkenal.
Baca Juga: Rahasia di Balik Shalawat saat Shalat, Kenapa Nama Nabi Ibrahim Disebut?
Meskipun pengarangnya adalah seorang sayyid, tapi beliau tidak terlalu terkenal. Hal Ini mungkin karena asalnya dari Kurdistan dan Madinah, bukan dari Hadramaut.
Kemasyhuran Barzanji di kampung-kampung di Jawa juga diiringi oleh wiridan pasca shalat wajib, dari istighfar hingga pembacaan doa, yang konon dipopulerkan oleh Qusyasyi melalui murid-muridnya. Ini semacam sufisme populer tanpa harus mengikat umat Islam Nusantara saat itu ke dalam sebuah tarekat.
“Jasa ulama Kurdi dalam Islam di Nusantara tak pernah bisa dilupakan dalam formasi intelektual, ritual keagamaan, dan memori kolektif kita,” ucap Zacky.
(jqf)