Doktor ITS Kembangkan Rantai Pasok Halal Berbasis Teknologi
Dwi sasongko
Selasa, 28 April 2026 - 16:53 WIB
Dr Miftakhurrizal Kurniawan ST MT saat menjelaskan hasil pengembangan model ketelusuran rantai pasok halal dan keamanan pangan berbasis blockchain dan Internet of Things (IoT). (Dok: Istimewa)
LANGIT7.ID-Surabaya; Satu lagi doktor lulusan dari Departemen Teknik Sistem dan Industri (DTSI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan inovasi di bidang rantai pasok pangan. Ialah Dr Miftakhurrizal Kurniawan ST MT yang melakukan riset yang berfungsi untuk mengembangkan model ketelusuran rantai pasok halal dan keamanan pangan berbasis teknologi blockchain dan Internet of Things (IoT).
Dalam disertasinya, doktor yang akrab disapa Miftakh ini menjelaskan bahwa sistem ketelusuran pangan konvensional masih memiliki banyak keterbatasan, terutama dalam hal efisiensi dan akurasi data. Kondisi ini berpotensi menimbulkan risiko terhadap keamanan pangan serta menurunkan kepercayaan konsumen terhadap produk yang beredar.
Menurutnya, ketelusuran merupakan elemen penting dalam menjamin keamanan dan kehalalan produk pangan dari hulu hingga hilir. Ia menambahkan bahwa sistem ketelusuran yang baik memungkinkan pelaku industri melacak asal produk dengan lebih jelas. “Sistem ketelusuran yang baik memungkinkan pelaku industri melacak asal produk serta mengidentifikasi potensi risiko secara lebih cepat dan tepat,” jelasnya dalam keterangan resmi, Selasa (28/4/2026).
Lebih lanjut, Miftakh mengintegrasikan teknologi blockchain dan IoT dalam model yang dikembangkannya untuk meningkatkan transparansi dan keandalan data. Blockchain berperan sebagai sistem penyimpanan data yang aman dan tidak dapat dimanipulasi, sedangkan IoT memungkinkan pengumpulan data secara real time melalui sensor.
Penelitian ini menggunakan pendekatan sistem dinamik untuk memodelkan kompleksitas interaksi dalam rantai pasok pangan. Ia menjelaskan bahwa pendekatan ini mampu menggambarkan hubungan antar variabel secara menyeluruh dan dinamis. “Pendekatan ini mampu menggambarkan hubungan antarvariabel secara menyeluruh dan dinamis, sehingga dapat menghasilkan simulasi yang lebih representatif,” ujarnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model berbasis blockchain dan IoT mampu meningkatkan ketersediaan pangan sebesar 5 persen serta mengurangi food waste pada tingkat konsumen sebesar 3 persen. Selain itu, skenario peningkatan kapasitas penyimpanan petani terbukti memberikan dampak paling signifikan terhadap efisiensi sistem.
Melalui model tersebut, menurut dosen Teknik Industri Universitas Brawijaya ini, sistem ketelusuran tidak hanya membantu meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat transparansi dalam rantai pasok pangan. Hal ini dinilai penting untuk membangun kepercayaan konsumen terhadap produk halal dan aman.
Dalam disertasinya, doktor yang akrab disapa Miftakh ini menjelaskan bahwa sistem ketelusuran pangan konvensional masih memiliki banyak keterbatasan, terutama dalam hal efisiensi dan akurasi data. Kondisi ini berpotensi menimbulkan risiko terhadap keamanan pangan serta menurunkan kepercayaan konsumen terhadap produk yang beredar.
Menurutnya, ketelusuran merupakan elemen penting dalam menjamin keamanan dan kehalalan produk pangan dari hulu hingga hilir. Ia menambahkan bahwa sistem ketelusuran yang baik memungkinkan pelaku industri melacak asal produk dengan lebih jelas. “Sistem ketelusuran yang baik memungkinkan pelaku industri melacak asal produk serta mengidentifikasi potensi risiko secara lebih cepat dan tepat,” jelasnya dalam keterangan resmi, Selasa (28/4/2026).
Lebih lanjut, Miftakh mengintegrasikan teknologi blockchain dan IoT dalam model yang dikembangkannya untuk meningkatkan transparansi dan keandalan data. Blockchain berperan sebagai sistem penyimpanan data yang aman dan tidak dapat dimanipulasi, sedangkan IoT memungkinkan pengumpulan data secara real time melalui sensor.
Penelitian ini menggunakan pendekatan sistem dinamik untuk memodelkan kompleksitas interaksi dalam rantai pasok pangan. Ia menjelaskan bahwa pendekatan ini mampu menggambarkan hubungan antar variabel secara menyeluruh dan dinamis. “Pendekatan ini mampu menggambarkan hubungan antarvariabel secara menyeluruh dan dinamis, sehingga dapat menghasilkan simulasi yang lebih representatif,” ujarnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model berbasis blockchain dan IoT mampu meningkatkan ketersediaan pangan sebesar 5 persen serta mengurangi food waste pada tingkat konsumen sebesar 3 persen. Selain itu, skenario peningkatan kapasitas penyimpanan petani terbukti memberikan dampak paling signifikan terhadap efisiensi sistem.
Melalui model tersebut, menurut dosen Teknik Industri Universitas Brawijaya ini, sistem ketelusuran tidak hanya membantu meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat transparansi dalam rantai pasok pangan. Hal ini dinilai penting untuk membangun kepercayaan konsumen terhadap produk halal dan aman.