home masjid

Pembangkangan Zakat Banu Tamim: Menguji Kepemimpinan pada Masa Transisi Islam

Senin, 04 Mei 2026 - 15:30 WIB
Tindakan Abu Bakar yang memerangi kaum penolak zakat bukan sekadar tindakan represif, melainkan langkah penyelamatan institusi negara Islam yang fondasinya sedang dibangun. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Matahari di gurun pasir selalu membawa kisah tentang pergulatan kekuasaan dan tradisi. Di wilayah yang membentang dari selatan Banu Amir hingga Teluk Persia, terletak perkampungan Banu Tamim. Dalam buku Abu Bakr As-Siddiq - Yang Lembut Hati karya Muhammad Husain Haekal disebutkan kabilah ini menempati posisi yang sangat terhormat dalam sejarah Arab pra-Islam. Mereka dikenal karena keberanian, kemurahan hati, serta kepiawaian kaum lelakinya sebagai pahlawan dan penyair ulung.

Sejarah mencatat nama-nama cabang kabilah ini, seperti Banu Hanzalah, Darim, Banu Malik, dan Banu Yarbu, yang kiprahnya tertuang dalam berbagai literatur klasik dan biografi sejarawan.

Kedekatan geografis kabilah ini dengan muara sungai Furat dan Teluk Persia membawa dampak sosial dan ekonomi yang besar. Interaksi yang intens antara penduduk Semenanjung Arab dan penduduk Irak serta Persia membuat sebagian anggota Banu Tamim menganut agama Nasrani, kendati mayoritas masih memegang teguh tradisi penyembahan berhala.

Ketika cahaya Islam mulai menyinari kawasan tersebut, sebagian kabilah ini mengalami benturan budaya. Kebebasan kesukuan yang selama ini mengakar membuat hati mereka belum sepenuhnya senang menerima hukum-hukum baru yang mengikat.

Hal ini terlihat nyata ketika Rasulullah mengutus para pemungut zakat ke daerah mereka. Banu Anbar dari cabang kabilah Tamim dengan cepat mengambil panah dan pedang ketika didatangi oleh pengumpul zakat. Mereka merasa keberatan dan menolak kewajiban yang dianggap mengurangi kekayaan mereka.

Penolakan ini memicu reaksi tegas dari Madinah. Rasulullah kemudian mengutus Uyainah bin Hisn untuk memimpin ekspedisi guna menertibkan kabilah tersebut. Dalam operasi itu, sebagian anggota kabilah dibunuh dan ditawan.

Peristiwa tersebut memaksa Banu Tamim mengubah strategi. Sebuah delegasi yang terdiri dari para pemuka kabilah datang ke Madinah. Dengan congkak, mereka memasuki kompleks masjid dan memanggil-manggil Nabi dari luar bilik tempat tinggalnya. Mereka menuntut agar para tawanan dikembalikan. Mereka juga mengingatkan kembali peristiwa di Hunain dan mengagungkan status kabilah mereka yang terpandang di kalangan orang-orang Arab.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya