Rektor Paramadina: Agama dan Pancasila Satu Tarikan Napas, Tidak Bisa Dibenturkan
Fajar adhitya
Senin, 18 Oktober 2021 - 14:32 WIB
Rektor Universitas Paramadina Prof Didik J Rachbini (Dok Univertitas Paramadina)
Rektor Universitas Paramadina Prof Didik J Rachbini mengatakan, hubungan agama dengan Pancasila sudah sejalan. Didik menyarankan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menggandeng universitas atau lembaga pendidikan tinggi agar sosialisasi nilai-nilai Pancasila tidak kontradiktif.
Didik menjelaskan, seperti satu tarikan napas, Pancasila sebagai ideologi negara tidak dapat dibenturkan dengan agama. Tema tentang Pancasila, negara dan agama di Universitas Paramadina sudah dimulai oleh Cak Nur sekitar empat dekade silam, yaitu dengan gagasan Keislaman dan Keindonesiaan.
“Jadi sudah tidak ada perkara lagi. Sudah selesai,” kata Didik saat memberi pengantar Dialog Kebangsaan bertajuk Pancasila dan Penyemaian Spirit Moderasi Beragama di Kalangan Pelajar dan Mahasiswa di Indonesia ini diselenggarakan Universitas Paramadina bekerjasama dengan Universitas Mahakarya Asia dan BPIP, Senin (18/10/2021).
Baca Juga:Ki Bagus Hadikusumo: Ulama Muhammadiyah Perumus Pembukaan UUD 1945
Cendekiawan Muslim, Nurcholish Madjid memandang Pancasila sebagai rumusan formal sudah tidak perlu lagi dipersoalkan. Kedudukan konstitusionalnya sebagai dasar kehidupan bernegara dan bermasyarakat dalam pluralitas Indonesia merupakan hal yang final.
“Nilai-nilai ini dimasukkan ke kampus sehingga mahasiswa mendapat materi yang sejuk tentang keindonesiaan dan telah melekat pada 4.000 mahasiswa,” imbuhnya.
Dalam pengantarnya, Didik mendorong agar BPIP intens menjalin kerjasama dengan universitas dan lembaga pendidikan tinggi lain dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila ke masyarakat. Sehingga, pernyataan atau sikap yang kontroversial dapat dihindari.
Didik menjelaskan, seperti satu tarikan napas, Pancasila sebagai ideologi negara tidak dapat dibenturkan dengan agama. Tema tentang Pancasila, negara dan agama di Universitas Paramadina sudah dimulai oleh Cak Nur sekitar empat dekade silam, yaitu dengan gagasan Keislaman dan Keindonesiaan.
“Jadi sudah tidak ada perkara lagi. Sudah selesai,” kata Didik saat memberi pengantar Dialog Kebangsaan bertajuk Pancasila dan Penyemaian Spirit Moderasi Beragama di Kalangan Pelajar dan Mahasiswa di Indonesia ini diselenggarakan Universitas Paramadina bekerjasama dengan Universitas Mahakarya Asia dan BPIP, Senin (18/10/2021).
Baca Juga:Ki Bagus Hadikusumo: Ulama Muhammadiyah Perumus Pembukaan UUD 1945
Cendekiawan Muslim, Nurcholish Madjid memandang Pancasila sebagai rumusan formal sudah tidak perlu lagi dipersoalkan. Kedudukan konstitusionalnya sebagai dasar kehidupan bernegara dan bermasyarakat dalam pluralitas Indonesia merupakan hal yang final.
“Nilai-nilai ini dimasukkan ke kampus sehingga mahasiswa mendapat materi yang sejuk tentang keindonesiaan dan telah melekat pada 4.000 mahasiswa,” imbuhnya.
Dalam pengantarnya, Didik mendorong agar BPIP intens menjalin kerjasama dengan universitas dan lembaga pendidikan tinggi lain dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila ke masyarakat. Sehingga, pernyataan atau sikap yang kontroversial dapat dihindari.