home masjid

Mobilisasi Jemaah Terbesar Sepanjang Sejarah Madinah: Nabi Pimpin Keberangkatan Haji 10 Hijriah

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:14 WIB
Islam menggunakan otoritas kerasulan untuk meruntuhkan kekakuan adat lama demi mewujudkan kemaslahatan dan kemudahan bagi umat. Ilustrasi: Gemini AI
LANGIT7.ID-Sebuah mobilisasi kolosal yang belum pernah disaksikan oleh langit Jazirah Arab terjadi pada penghujung tahun kesepuluh Hijriah. Kota Madinah, yang semula menjadi basis pertahanan militer dan pusat konsolidasi hukum Islam, seketika berubah menjadi titik awal dari sebuah pergerakan spiritual massal.

Tepat pada tanggal 25 Zulkaidah, Nabi Muhammad memutuskan untuk bergerak menuju kota suci Makkah. Keberangkatan ini bukan untuk melakukan ekspansi militer atau penaklukan wilayah, melainkan untuk menunaikan sebuah ritme ibadah yang kelak menjadi acuan abadi bagi generasi Muslim masa depan: Haji Perpisahan.

Dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, sebuah karya ilmiah tepercaya yang ditulis oleh sejarawan Mesir Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya, peristiwa ini digambarkan dengan nuansa sosiologis yang sangat kental.

Perjalanan agung ini tidak hanya diikuti oleh barisan para sahabat pria. Nabi Muhammad secara khusus membawa serta seluruh istrinya, yang masing-masing ditempatkan dengan hormat di dalam hodah—sebuah tandu tertutup di atas punggung unta. Kehadiran para istri Nabi dalam kafilah ini memberikan pesan kuat mengenai posisi terhormat perempuan dalam ruang publik dan pelaksanaan ibadah dalam Islam.

Kafilah ini bergerak dengan jumlah manusia yang begitu melimpah. Catatan para penulis sejarah dan ahli hadis klasik bervariasi dalam menghitung jumlah total jemaah yang terlibat; sebagian menyebutkan angka 90.000 orang, sementara otoritas sejarah lainnya mencatat hingga 114.000 orang.

Namun, di balik perbedaan angka tersebut, esensi dari pergerakan ini tetap sama. Mereka adalah massa yang bergerak didorong oleh satu kekuatan iman yang homogen, dengan jantung yang dipenuhi kegembiraan serta keikhlasan total untuk mendatangi Baitullah yang suci guna menunaikan kewajiban ibadah haji besar.

Ketika rombongan raksasa ini tiba di Dzulhulaifah—titik miqat yang terletak beberapa kilometer di luar Madinah—Nabi memerintahkan jemaah untuk berhenti dan bermalam selama satu malam. Fase jeda ini digunakan untuk mempersiapkan mental dan fisik sebelum memasuki wilayah haram.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya