home global news

Fadli Zon Resmikan Festival Liangkobori 2026, Gua Metanduno dengan Lukisan Tertua Dunia Jadi Sorotan

Ahad, 12 Juli 2026 - 10:56 WIB
Fadli Zon Resmikan Festival Liangkobori 2026, Gua Metanduno dengan Lukisan Tertua Dunia Jadi Sorotan
LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, secara resmi membuka Festival Liangkobori IV Tahun 2026 di Desa Liangkobori, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Festival ini menjadi momentum untuk memperkuat pelindungan, pelestarian, dan pemanfaatan warisan budaya prasejarah Muna menyusul publikasi hasil penelitian pada Januari 2026 yang menetapkan lukisan cadas di Gua Metanduno sebagai lukisan tertua di dunia dalam kategori seni nonfiguratif dengan usia minimum 67.800 tahun.

Festival Liangkobori merupakan agenda budaya tahunan yang memperkenalkan kekayaan warisan budaya Kabupaten Muna melalui pertunjukan seni tradisi, pameran budaya, permainan tradisional, kuliner lokal, serta berbagai kegiatan edukasi mengenai kawasan prasejarah Liangkobori. Festival ini juga menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan komunitas budaya dalam memperkuat pelestarian warisan budaya sekaligus mendorong pengembangan pariwisata berbasis budaya secara berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Menbud Fadli Zon menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Pemerintah Kabupaten Muna, Pemerintah Desa Liangkobori, para pemangku adat, peneliti, komunitas budaya, dan masyarakat yang telah menjaga kawasan Liangkobori lintas generasi. Menurutnya, Festival Liangkobori bukan sekadar agenda budaya tahunan, melainkan ruang untuk memperkenalkan salah satu tonggak penting sejarah peradaban manusia kepada masyarakat Indonesia maupun dunia.

"Melalui Festival Liangkobori ini kita membuka kembali salah satu bab penting dalam sejarah manusia. Tidak hanya sejarah Sulawesi atau Indonesia, tetapi juga sejarah dunia," ujar dia dalam keterangannya. Minggu (12/7/2026).

Menurut Menbud, publikasi hasil penelitian Gua Metanduno yang dirilis oleh para peneliti pada Januari lalu merupakan pencapaian penting bagi Indonesia karena memperkuat posisi Nusantara dalam peta sejarah awal peradaban manusia. Temuan itu juga membuka peluang bagi penelitian lanjutan mengenai asal-usul manusia, perkembangan seni cadas, dan evolusi kebudayaan di kawasan ini.

Menbud menegaskan bahwa temuan tersebut harus diikuti dengan upaya pelindungan yang kuat melalui kolaborasi pemerintah, peneliti, akademisi, dan masyarakat. Menurutnya, pelindungan kawasan tidak hanya bertujuan menjaga keaslian situs, tetapi juga menjadikannya sebagai sumber pengetahuan, pendidikan, diplomasi budaya, serta pengembangan ekonomi budaya yang berkelanjutan.

Saat meninjau Gua Metanduno, Menbud kembali menegaskan pentingnya menjaga situs prasejarah tersebut sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. "Ini adalah aset budaya, kekayaan budaya yang harus kita jaga. Temuan ini menunjukkan bahwa puluhan ribu tahun lalu sudah ada kehidupan dan peradaban di kawasan ini. Karena itu, situs ini harus kita amankan, lestarikan, dan preservasi sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia," tegasnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya