home masjid

Tafsir Hadits: Menyelami Makna Kebajikan dan Dosa Lewat Kejujuran Hati

Rabu, 29 Juli 2026 - 12:01 WIB
Tafsir Hadits: Menyelami Makna Kebajikan dan Dosa Lewat Kejujuran Hati
Dalam ajaran Islam, tolok ukur kebaikan dan keburukan tidak hanya dirumuskan dalam aturan hukum yang kaku, melainkan juga menyentuh kedalaman nurani manusia. Hal ini tergambar jelas dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Nawwas bin Sam'an Al-Kilabi. Dalam riwayat tersebut, Rasulullah SAW memberikan definisi yang sangat mendalam namun sederhana mengenai hakikat kebajikan dan dosa, yakni bahwa kebajikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa yang mengganjal di dalam dada dan engkau benci jika hal itu diketahui oleh orang lain.

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ مَيْمُونٍ. حَدَّثَنَا ابن مهدي عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ النواس بن سمعان الأنصاري. قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عن البر والإثم؟ فقال "البر حسن الخلق. والإثم ما حاك في صدرك، وكرهت أن يطلع عليه الناس

"Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hatim bin Maimun; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi dari Muawiyah bin Shalih, dari Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, dari ayahnya, dari Nawwas bin Sam'an Al-Anshari, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kebajikan dan dosa. Beliau bersabda: Kebajikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa yang mengganjal di dalam dadamu dan engkau benci jika hal itu diketahui oleh orang lain."

Catatan riwayat tersebut juga menyimpan keunikan tersendiri dari sisi keilmuan sanad. Meskipun dalam beberapa naskah tertulis nama Nawwas bin Sam'an Al-Anshari, para ulama ahli hadis seperti Abu Ali Al-Jayyani, Al-Maziri, dan Qadhi Iyadh meluruskan bahwa Nawwas sebenarnya berasal dari suku Kilab atau Al-Kilabi. Nisbah Al-Anshari kemungkinan terjadi karena statusnya sebagai sekutu atau tamu terhormat bagi kaum Anshar selama menetap di Kota Madinah.

Latar belakang pencarian ilmu oleh Nawwas bin Sam'an memberikan gambaran menarik mengenai tradisi bertanya di masa kenabian. Nawwas rela menunda status hijrah dan menetapnya secara permanen di Madinah selama satu tahun semata-mata agar tetap memiliki keleluasaan bertanya kepada Nabi SAW. Pada masa itu, kaum Muhajirin yang sudah menetap cenderung membatasi diri untuk bertanya secara langsung karena rasa hormat dan kepatuhan. Kedatangan para tamu atau warga dari luar Madinah justru menjadi momen yang sangat dinantikan oleh kaum Muhajirin, karena pertanyaan para tamu tersebut membukakan pintu jawaban dan hikmah baru dari Rasulullah SAW bagi seluruh umat.

Mengenai makna kebajikan atau al-birr, Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama menafsirkan kata tersebut ke dalam beberapa dimensi, mulai dari menyambung tali silaturahmi, bersikap lemah lembut, berbuat kebaikan, hingga membangun hubungan kemasyarakatan yang harmonis dan penuh ketaatan. Seluruh cakupan makna indah tersebut bermuara pada satu muara utama, yaitu keluhuran akhlak seseorang.

Baca Juga:Tafsir Hadits: Bersyukur dengan Menatap Mereka yang Berada di Bawah
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya