Konflik PBNU Memanas, Gus Faris Desak Tiga Pucuk Pimpinan Tak Maju di Muktamar NU
Esti setiyowati
Sabtu, 01 Agustus 2026 - 15:30 WIB
Pengasuh Pondok Pesantren Nadwatul Ummah, Buntet, Cirebon, KH Faris Fuad Hasyim atau Gus Faris. Foto: PKB
Pengasuh Pondok Pesantren Nadwatul Ummah, Buntet, Cirebon, KH Faris Fuad Hasyim atau Gus Faris, menyebut konflik internal yang terjadi di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjadi bukti adanya persoalan dalam tata kelola organisasi. Karena itu, ia berpandangan jajaran pimpinan saat ini tidak seharusnya kembali dicalonkan dalam Muktamar ke-35 NU.
Pernyataan tersebut disampaikan Gus Faris dalam Serial DiskusiMuktamar ke-35 NU bertema Mencari Format Ideal Kepemimpinan NU yang digelar di Kafe Trisnoku, Jakarta Pusat, Jumat (31/7/2026).
Baca juga:Jelang Muktamar ke-35 NU, Gus Ipul Ingatkan Prinsip Gupuh, Lungguh, Suguh
Menurutnya, dinamika yang berkembang di tubuh PBNU, termasuk perselisihan antara Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, menunjukkan organisasi sedang menghadapi persoalan serius yang membutuhkan penyelesaian segera.
"Hari ini PBNU dikelola hanya dengan pendekatan struktural. Akibatnya lahirlah berbagai dinamika yang kita saksikan sekarang, termasuk konflik antara Rais Aam dan Ketua Umum PBNU," kata Gus Faris dalam keterangannya, dikutip Sabtu (1/8/2026).
Ia menilai pendekatan administratif yang digunakan dalam penyelesaian konflik justru memperkeruh keadaan. Gus Faris menyinggung keputusan Rais Aam yang memberhentikan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, serta keputusan Gus Yahya yang mencopot Saifullah Yusuf dari jabatan Sekretaris Jenderal PBNU.
Menurutnya, praktik saling memberhentikan pengurus merupakan fenomena baru dalam sejarah NU dan berdampak luas terhadap dinamika organisasi menjelang Muktamar.
Pernyataan tersebut disampaikan Gus Faris dalam Serial DiskusiMuktamar ke-35 NU bertema Mencari Format Ideal Kepemimpinan NU yang digelar di Kafe Trisnoku, Jakarta Pusat, Jumat (31/7/2026).
Baca juga:Jelang Muktamar ke-35 NU, Gus Ipul Ingatkan Prinsip Gupuh, Lungguh, Suguh
Menurutnya, dinamika yang berkembang di tubuh PBNU, termasuk perselisihan antara Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, menunjukkan organisasi sedang menghadapi persoalan serius yang membutuhkan penyelesaian segera.
"Hari ini PBNU dikelola hanya dengan pendekatan struktural. Akibatnya lahirlah berbagai dinamika yang kita saksikan sekarang, termasuk konflik antara Rais Aam dan Ketua Umum PBNU," kata Gus Faris dalam keterangannya, dikutip Sabtu (1/8/2026).
Ia menilai pendekatan administratif yang digunakan dalam penyelesaian konflik justru memperkeruh keadaan. Gus Faris menyinggung keputusan Rais Aam yang memberhentikan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, serta keputusan Gus Yahya yang mencopot Saifullah Yusuf dari jabatan Sekretaris Jenderal PBNU.
Menurutnya, praktik saling memberhentikan pengurus merupakan fenomena baru dalam sejarah NU dan berdampak luas terhadap dinamika organisasi menjelang Muktamar.