Quraish Shihab: Wasathiyyah Bukan Sekadar Pertengahan, tapi Terbaik
Jaja Suhana
Senin, 15 November 2021 - 13:47 WIB
Dalam Islam, makanan itu harus halalan thayyiban. Foto: LANGIT7/iStock.
Penerapan wasathiyyah tidak dapat disamakan antara satu masyarakat dengan masyarakat lain. Nilai-nilai wasathiyyah orang Indonesia bisa saja berbeda dengan orang Amerika. Oleh karena itu wasathiyyah memerlukanilmu untuk mengetahui yang terbaik.
Hal itu disampaikan cendikiawan Prof Quraish Shihab dalam bedah buku 'Wasathiyyah Moderasi Beragama' bersama Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an Kemenag secara virtual, Senin (15/11/2021). “Jadi, wasathiyyah bukan sekadar pertengahan, wasathiyyah adalah yang terbaik sesuai tuntunan agama dan adil menempatkan sesuatu pada tempatnya," ujarnya.
Menurut dia, istilah wasathiyyah terbagi menjadi empat makna, pertama al-adl atau adil. Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kedua, as-Sadad, bermakna ketepatan dan ketiga, istiqamah.
Baca Juga:Buka MTQ, Wamenag Ingatkan Perjuangan Kesultanan Buton dalam Dakwah
"Istiqamah bukan hanya konsisten, qama itu berarti melaksanakan sesuatu secara sempurna, fastaqim kama umirta, jangan melampaui batas, dan jangan sampai berlebih-lebihan. Ghuluw itu melampaui batas walaupun sedikit," katanya.
Keempat, wasathiyyah juga bisa diartikan pertengahan. Menurut Direktur Pusat Studi al-Qur'an ini wasathiyyah adalah yang terbaik, bukan hanya pertengahan. Wasathiyyah dalam pengertian sebagai pertengahan jangan disamakan dengan matematika, seperti berani adalah pertengahan antara nekat dan penakut.
Baca Juga:Uu Sampaikan 4 Pesan ke Wisudawan STID Sinarasa Ciamis
Hal itu disampaikan cendikiawan Prof Quraish Shihab dalam bedah buku 'Wasathiyyah Moderasi Beragama' bersama Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an Kemenag secara virtual, Senin (15/11/2021). “Jadi, wasathiyyah bukan sekadar pertengahan, wasathiyyah adalah yang terbaik sesuai tuntunan agama dan adil menempatkan sesuatu pada tempatnya," ujarnya.
Menurut dia, istilah wasathiyyah terbagi menjadi empat makna, pertama al-adl atau adil. Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kedua, as-Sadad, bermakna ketepatan dan ketiga, istiqamah.
Baca Juga:Buka MTQ, Wamenag Ingatkan Perjuangan Kesultanan Buton dalam Dakwah
"Istiqamah bukan hanya konsisten, qama itu berarti melaksanakan sesuatu secara sempurna, fastaqim kama umirta, jangan melampaui batas, dan jangan sampai berlebih-lebihan. Ghuluw itu melampaui batas walaupun sedikit," katanya.
Keempat, wasathiyyah juga bisa diartikan pertengahan. Menurut Direktur Pusat Studi al-Qur'an ini wasathiyyah adalah yang terbaik, bukan hanya pertengahan. Wasathiyyah dalam pengertian sebagai pertengahan jangan disamakan dengan matematika, seperti berani adalah pertengahan antara nekat dan penakut.
Baca Juga:Uu Sampaikan 4 Pesan ke Wisudawan STID Sinarasa Ciamis