LANGIT7.ID, Jakarta - Penerapan wasathiyyah tidak dapat disamakan antara satu masyarakat dengan masyarakat lain. Nilai-nilai wasathiyyah orang Indonesia bisa saja berbeda dengan orang Amerika. Oleh karena itu wasathiyyah memerlukan ilmu untuk mengetahui yang terbaik.
Hal itu disampaikan cendikiawan Prof Quraish Shihab dalam bedah buku 'Wasathiyyah Moderasi Beragama' bersama Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an Kemenag secara virtual, Senin (15/11/2021). “Jadi, wasathiyyah bukan sekadar pertengahan, wasathiyyah adalah yang terbaik sesuai tuntunan agama dan adil menempatkan sesuatu pada tempatnya," ujarnya.
Menurut dia, istilah wasathiyyah terbagi menjadi empat makna, pertama
al-adl atau adil. Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kedua,
as-Sadad, bermakna ketepatan dan ketiga, istiqamah.
Baca Juga: Buka MTQ, Wamenag Ingatkan Perjuangan Kesultanan Buton dalam Dakwah"Istiqamah bukan hanya konsisten,
qama itu berarti melaksanakan sesuatu secara sempurna,
fastaqim kama umirta, jangan melampaui batas, dan jangan sampai berlebih-lebihan.
Ghuluw itu melampaui batas walaupun sedikit," katanya.
Keempat, wasathiyyah juga bisa diartikan pertengahan. Menurut Direktur Pusat Studi al-Qur'an ini wasathiyyah adalah yang terbaik, bukan hanya pertengahan. Wasathiyyah dalam pengertian sebagai pertengahan jangan disamakan dengan matematika, seperti berani adalah pertengahan antara nekat dan penakut.
Baca Juga: Uu Sampaikan 4 Pesan ke Wisudawan STID Sinarasa Ciamis"Wasathiyyah berarti melakukan yang terbaik, hal inilah yang kemudian menjadi dasar perintah berlomba untuk kebajikan dalam Islam. Amar ma’ruf nahi munkar," katanya.
Karena itu, menurut dia, jangan memahami moderasi dalam pandangan pasif. Umpamanya, ketika melihat sebuah timbangan, jangan mengarahkan pandangan ke arah tengah, tetapi pandanglah ke arah dua bagian, kemudian ambil sesuatu dari arah yang tidak seimbang dan letakkan di tempat yang semestinya.
Baca Juga: Ini Orasi 4 Profesor Riset yang Dikukuhkan Kemenag"Selanjutnya, wasathiyyah itu diibaratkan pakaian seseorang, agama sudah menyiapkan bahannya, namun model dan ukurannya anda yang menentukan," ujarnya.
"Maka, kalau kita tidak bisa menjadi muslim sempurna, paling tidak berusaha mendekati kesempurnaan atau paling tidak kita tidak zalim kepada diri sendiri," sambungnya.
Baca Juga: Mahfud MD: Indonesia Bukan Negara Agama, Juga Bukan Negara Sekuler(zhd)