6 Faktor Bangkitnya Dakwah Islam di Nusantara melalui Ormas
Redaksi
Selasa, 16 November 2021 - 15:43 WIB
Masjid Gedhe Kauman yang menjadi saksi sejarah berkembangnya Islam di Yogyakarta. (Foto: Istimewa).
Di antara karakteristik gerakan dakwah Islam di Indonesia pada awal abad ke-20 atau tahun 1900-an adalah bangkitnya gerakan dakwah yang terorganisir yang ditandai dengan berdirinya tandzhim, jam’iyyah, muassasah, atau lembaga-lembaga dakwah. Meskipun hal itu merupakan fenomena umum yang terjadi di negeri-negeri muslim yang berada dalam kolonialisasi bangsa Barat, baik di Asia, Afrika, maupun anak benua India, tetapi kebangkitan gerakan dakwah Islam melalui gerakan organisasi-organisasi masa (Ormas) di Indonesia memiliki karakteristik yang istimewa.
Oleh: KH Dr Jeje Zaenudin, M.Ag
Tidak mengherankan jika figur-figur ulama besar dan du’at (para da'i) yang sangat berpengaruh dalam pergerakan dakwah Islam Indonesia pada awal abad dua puluh tidak bisa dipisahkan dengan kebangkitan dakwah melalui Ormas sebagai wadah perjuangannya. Seperti kebesaran HOS Cokro Aminoto yang identik dengan Sayarikat Islam, Syekh Ahmad Surkati dari Al Irsyad, Syekh Ahmad Dahlan dari Muhammadiyah, Syekh Ahmad Hassan dari Persatuan Islam (Persis), Syekh Hasyim As’ary dari Nahdhatul Ulama, Syekh Abdul Halim dari PUI, dan sederet ulama-ulama besar lainnya yang lahir seiring dengan kebangkitan gerakan dakwah dan perjuangan nasional melalui Ormas.
Ada enam faktor pendorong bangkitnya dakwah Islam di Nusantara melalui gerakan Ormas yang penulis amati:
Pertama, hilangnya kepemimpin formal Islam setelah kerajaan-kerajaan Islam di seluruh nusantara dilumpuhkan dan kekuasaan mereka diambil alih oleh pemerintah penjajah Belanda. Rakyat dan masyarakat Islam memberdayakan diri mereka sendiri dipimpin oleh para ulama, kiyai, dan guru ngaji setempat.
Baca Juga:Moderasi Beragama Secara Konseptual dan Praktik Merupakan Dua Hal Berbeda
Kedua, perjuangan melalui perlawanan fisik dan persenjataan secara sporadis, lokal, dan terpecah-pecah terbukti mengalami kekalahan demi kekalahan karena ketidakseimbangan persenjataan dan kemampuan tempur, selain memang kecerdikan Belanda dalam mengadu domba kekuatan pribumi.
Oleh: KH Dr Jeje Zaenudin, M.Ag
Tidak mengherankan jika figur-figur ulama besar dan du’at (para da'i) yang sangat berpengaruh dalam pergerakan dakwah Islam Indonesia pada awal abad dua puluh tidak bisa dipisahkan dengan kebangkitan dakwah melalui Ormas sebagai wadah perjuangannya. Seperti kebesaran HOS Cokro Aminoto yang identik dengan Sayarikat Islam, Syekh Ahmad Surkati dari Al Irsyad, Syekh Ahmad Dahlan dari Muhammadiyah, Syekh Ahmad Hassan dari Persatuan Islam (Persis), Syekh Hasyim As’ary dari Nahdhatul Ulama, Syekh Abdul Halim dari PUI, dan sederet ulama-ulama besar lainnya yang lahir seiring dengan kebangkitan gerakan dakwah dan perjuangan nasional melalui Ormas.
Ada enam faktor pendorong bangkitnya dakwah Islam di Nusantara melalui gerakan Ormas yang penulis amati:
Pertama, hilangnya kepemimpin formal Islam setelah kerajaan-kerajaan Islam di seluruh nusantara dilumpuhkan dan kekuasaan mereka diambil alih oleh pemerintah penjajah Belanda. Rakyat dan masyarakat Islam memberdayakan diri mereka sendiri dipimpin oleh para ulama, kiyai, dan guru ngaji setempat.
Baca Juga:Moderasi Beragama Secara Konseptual dan Praktik Merupakan Dua Hal Berbeda
Kedua, perjuangan melalui perlawanan fisik dan persenjataan secara sporadis, lokal, dan terpecah-pecah terbukti mengalami kekalahan demi kekalahan karena ketidakseimbangan persenjataan dan kemampuan tempur, selain memang kecerdikan Belanda dalam mengadu domba kekuatan pribumi.