Nasaruddin Umar: Menara Masjid di Zaman Nabi untuk Kontrol Sosial
Fajar adhitya
Senin, 22 November 2021 - 09:05 WIB
Masjid Kassim, Kembangan. Foto: iStock.
Menara merupakan instrumen yang hampir selalu ada dalam setiap bangunan masjid. Saat ini, menara masjid hanya berfungsi sebagai tempat pengeras suara untuk menyiarkan adzan.
Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Nasaruddin Umar mengatakan, menara masjid bukanlah untuk gagah-gagahan. Pada zaman Rasulullah, menara masjid difungsikan untuk memantau kemakmuran masyarakat sekitarnya.
Kiai Nasaruddin mengatakan, menara masjid Nabi tidak hanya dipakai adzan, tapi melihat dari ketinggiann rumah-rumah mana yang tidak berasap dapurnya. Ini satu hal penting fungsi menara masjid sebagai kontrol sosial.
Baca Juga:Istiqlal Jadi Inspirasi 10 Masjid Dunia Ramah Lingkungan
“Lalu sahabat turun menjembatani dan bertanya kenapa dapurnya tidak berasap, mungkin tidak ada yang bisa dimasak. Jadi menara masjid itu bukan untuk gagah-gagahan, tapi untuk sosial kontrol,” katanya dalam Webinar MLH PP Muhammadiyah bertajuk Masjid Ramah Lingkungan (Eco-Mosque, Green Mosque, dan Smart-Mosque), dikutip Senin (22/11/2021).
Zaman dahulu, pada daerah-daerah tertentu di wilayah kepulauan, menara dapat difungsikan sebagai mercusuar pelayaran. Seperti yang pernah dilakukan pada Masjid Raja H Abdul Ghani di Desa Buru, Kecamatan Buru, Kabupaten Karimun, Kepulauan Buru.
Baca Juga:Mengenal 6 Ragam Kuliner Daerah Cianjur yang Wajib Coba
Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Nasaruddin Umar mengatakan, menara masjid bukanlah untuk gagah-gagahan. Pada zaman Rasulullah, menara masjid difungsikan untuk memantau kemakmuran masyarakat sekitarnya.
Kiai Nasaruddin mengatakan, menara masjid Nabi tidak hanya dipakai adzan, tapi melihat dari ketinggiann rumah-rumah mana yang tidak berasap dapurnya. Ini satu hal penting fungsi menara masjid sebagai kontrol sosial.
Baca Juga:Istiqlal Jadi Inspirasi 10 Masjid Dunia Ramah Lingkungan
“Lalu sahabat turun menjembatani dan bertanya kenapa dapurnya tidak berasap, mungkin tidak ada yang bisa dimasak. Jadi menara masjid itu bukan untuk gagah-gagahan, tapi untuk sosial kontrol,” katanya dalam Webinar MLH PP Muhammadiyah bertajuk Masjid Ramah Lingkungan (Eco-Mosque, Green Mosque, dan Smart-Mosque), dikutip Senin (22/11/2021).
Zaman dahulu, pada daerah-daerah tertentu di wilayah kepulauan, menara dapat difungsikan sebagai mercusuar pelayaran. Seperti yang pernah dilakukan pada Masjid Raja H Abdul Ghani di Desa Buru, Kecamatan Buru, Kabupaten Karimun, Kepulauan Buru.
Baca Juga:Mengenal 6 Ragam Kuliner Daerah Cianjur yang Wajib Coba