Pesantren Berperan Penting Lestarikan Bahasa Daerah
Muhajirin
Sabtu, 27 November 2021 - 13:58 WIB
Ilustrasi tradisi sorogan di Pesantren, santri langsung belajar menghadap kepada Kiai (foto: langit7.id/istock)
Indonesia merupakan negara terkaya ragam bahasa daerahnya di dunia. Menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2019, ada sekitar 801 bahasa daerah di Indonesia. Namun lambat laun, bahasa daerah semakin jarang digunakan seiring meluasnya masyarakat perkotaan.
Guru Besar Antropolinguistik Universitas Khairun, Ternate, Gufran A. Ibrahim, pernah mengutarakan salah satu penyebab kepunahan suatu bahasa di dunia. Ia khawatir bahasa lokal atau daerah akan punah, termasuk bahasa-bahasa daerah di Indonesia.
“Punahnya satu bahasa di dunia bukan karena penutur jatinya (native speaker) berhenti berbicara, melainkan karena ayah-ibu dalam satu keluarga tidak lagi menggunakan bahasa ibu (mother tongue) di ranah keluarga,” tulis Gufran dalam artikelnya di Harian Kompas edisi 21 Februari 2018.
Indonesia memiliki suku bangsa yang sangat banyak. Diikuti puluhan bahasa daerah. Namun, keberadaan bahasa daerah lambat laun berkurang. Masyarakat Indonesia sudah sepakat menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional sekaligus bahasa persatuan.
Bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa pengantar dalam ruang birokrasi, komunikasi edukasi, maupun mempererat relasi sosial/ekonomi. Tapi selaras dengan itu, ada tanggung jawab personal untuk tetap mempertahankan bahasa lokal. Sebab, selain menjadi penguatan identitas primordial agar tidak kehilangan asal-usul, bahasa daerah juga menjadi penguat akar kedirian.
Nah, dalam ruang lingkup ini, menurut Rektor Institut Agama Islam al-Falah Assunniyyah (Inaifas) Kencong Jember, Rijal Mumazziq R, pesantren memiliki peran sangat penting sebagai pelestari bahasa daerah.
Di pesantren, kata dia, proses pengajaran dilakukan dengan menggunakan metode sorogan (tutorial) dan bandongan (seminar) dengan tetap mendahulukan bahasa daerah sebagai pengantar, terkhusus dalam memaknai kata per kata dalam sebuah kitab.
Guru Besar Antropolinguistik Universitas Khairun, Ternate, Gufran A. Ibrahim, pernah mengutarakan salah satu penyebab kepunahan suatu bahasa di dunia. Ia khawatir bahasa lokal atau daerah akan punah, termasuk bahasa-bahasa daerah di Indonesia.
“Punahnya satu bahasa di dunia bukan karena penutur jatinya (native speaker) berhenti berbicara, melainkan karena ayah-ibu dalam satu keluarga tidak lagi menggunakan bahasa ibu (mother tongue) di ranah keluarga,” tulis Gufran dalam artikelnya di Harian Kompas edisi 21 Februari 2018.
Indonesia memiliki suku bangsa yang sangat banyak. Diikuti puluhan bahasa daerah. Namun, keberadaan bahasa daerah lambat laun berkurang. Masyarakat Indonesia sudah sepakat menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional sekaligus bahasa persatuan.
Bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa pengantar dalam ruang birokrasi, komunikasi edukasi, maupun mempererat relasi sosial/ekonomi. Tapi selaras dengan itu, ada tanggung jawab personal untuk tetap mempertahankan bahasa lokal. Sebab, selain menjadi penguatan identitas primordial agar tidak kehilangan asal-usul, bahasa daerah juga menjadi penguat akar kedirian.
Nah, dalam ruang lingkup ini, menurut Rektor Institut Agama Islam al-Falah Assunniyyah (Inaifas) Kencong Jember, Rijal Mumazziq R, pesantren memiliki peran sangat penting sebagai pelestari bahasa daerah.
Di pesantren, kata dia, proses pengajaran dilakukan dengan menggunakan metode sorogan (tutorial) dan bandongan (seminar) dengan tetap mendahulukan bahasa daerah sebagai pengantar, terkhusus dalam memaknai kata per kata dalam sebuah kitab.