Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 04 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Pesantren Berperan Penting Lestarikan Bahasa Daerah

Muhajirin Sabtu, 27 November 2021 - 13:58 WIB
Pesantren Berperan Penting Lestarikan Bahasa Daerah
Ilustrasi tradisi sorogan di Pesantren, santri langsung belajar menghadap kepada Kiai (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID - Indonesia merupakan negara terkaya ragam bahasa daerahnya di dunia. Menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2019, ada sekitar 801 bahasa daerah di Indonesia. Namun lambat laun, bahasa daerah semakin jarang digunakan seiring meluasnya masyarakat perkotaan.

Guru Besar Antropolinguistik Universitas Khairun, Ternate, Gufran A. Ibrahim, pernah mengutarakan salah satu penyebab kepunahan suatu bahasa di dunia. Ia khawatir bahasa lokal atau daerah akan punah, termasuk bahasa-bahasa daerah di Indonesia.

“Punahnya satu bahasa di dunia bukan karena penutur jatinya (native speaker) berhenti berbicara, melainkan karena ayah-ibu dalam satu keluarga tidak lagi menggunakan bahasa ibu (mother tongue) di ranah keluarga,” tulis Gufran dalam artikelnya di Harian Kompas edisi 21 Februari 2018.

Indonesia memiliki suku bangsa yang sangat banyak. Diikuti puluhan bahasa daerah. Namun, keberadaan bahasa daerah lambat laun berkurang. Masyarakat Indonesia sudah sepakat menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional sekaligus bahasa persatuan.

Bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa pengantar dalam ruang birokrasi, komunikasi edukasi, maupun mempererat relasi sosial/ekonomi. Tapi selaras dengan itu, ada tanggung jawab personal untuk tetap mempertahankan bahasa lokal. Sebab, selain menjadi penguatan identitas primordial agar tidak kehilangan asal-usul, bahasa daerah juga menjadi penguat akar kedirian.

Nah, dalam ruang lingkup ini, menurut Rektor Institut Agama Islam al-Falah Assunniyyah (Inaifas) Kencong Jember, Rijal Mumazziq R, pesantren memiliki peran sangat penting sebagai pelestari bahasa daerah.

Di pesantren, kata dia, proses pengajaran dilakukan dengan menggunakan metode sorogan (tutorial) dan bandongan (seminar) dengan tetap mendahulukan bahasa daerah sebagai pengantar, terkhusus dalam memaknai kata per kata dalam sebuah kitab.

“Di Jawa, Sunda, dan Madura, transformasi ilmu dilakukan menggunakan metode ‘utawi iki iku’ dengan bahasa lokal masing-masing,” kata Gus Rijal melalui akun facebook-nya, dikutip Sabtu (27/11/2021).

Hal itu merupakan upaya jenius dalam melindungi kepunahan bahasa-bahasa lokal. Banyak sekali kosakata bahasa daerah yang mulai asing, karena jarang digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Gus Rijal mencontohkan kata mertela-ake (menerangkan), ndepe-ndepe (merendahkan diri), kepailitan (paceklik), hingga dodot (pakaian).

“Ini adalah bahasa Jawa namun penggunaannya sehari-hari nyaris tidak dijumpai. Namun, di pesantren, istilah ini tetap terlestarikan dalam frekuensi ilmiah untuk memaknai kata berbahasa Arab,” kata Gus Rijal.

Dalam lingkup yang sama, para ulama juga menyusun kitab berbahasa lokal. Seperti yang dilakukan KH Soleh Darat, KH Asnawi Kudus, KH Bisri Mustofa, Ajengan Ahmad Sanusi, dan Habib Utsman bin Yahya. Menurut Gus Rijal, itu merupakan upaya menjaga agar identitas dan jatidiri tidak luntur.

“Kita boleh saja berbahasa Inggris dengan alasan modern, atau berbahasa Indonesia untuk mengerek gengsi, atau beristilah Arab untuk kelihatan wow, tapi mula-mula, sebaiknya kita ajarkan komunikasi bahasa daerah dengan anak-anak kita, dalam ruang keluarga,” ujar Gus Rijal.

Gur Rijal menyebut, mengajari anak berbahasa daerah bukan lambang primordialisme, tapi bagian dari pengokohan identitas personal. Dengan mengajari anak berbahasa daerah berarti bangga menjadi bagian dari Tamansari Indonesia.

“Sebagaimana Sunda, Batak, Dayak, Bali, Papua, Bugis, Madura dan berbagai suku bangsa lainnya yang telah menjadi mozaik pembentuk Indonesia,” kata Gus Rijal.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 04 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:48
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)