Mimbar Langit 7
Ridha Audrey: Esport Indonesia Sudah Semakin Maju
Garry Talentedo Kesawa
Selasa, 30 November 2021 - 13:51 WIB
Ridha Audrey. Foto: Istimewa
Perkembangan dunia esports di Indonesia terbilang cukup pesat di dunia. Bahkan, sejak 2018 lalu, sudah banyak tim-tim dari Indonesia meramaikan turnamen di kancah internasional, diantaranya pernah menjadi juara 1 dan berhasil memboyong hadiah ratusan ribu dollar AS.
Pemerintah pun melihat ini sebagai sebuah peluang yang bisa dikembangkan secara berkelanjutan. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) sudah mengakui secara resmi cabang olahraga elektronik ini pada tahun 2018. Sebagai bentuk dukungan, pemerintah juga menyajikan beberapa turnamen, seperti Piala Menpora Esport dan Piala Presiden Esport.
Baca juga: Umat Islam Harus Berperan Aktif dalam Industri e-Sport
Meski begitu, melesatnya esport di Indonesia terbilang masih lambat dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Beberapa faktor didalamnya turut mempengaruhi lambatnya perkembangan esports di Tanah Air.
"Banyak orang masih menganggap gim bukan profesi, padahal industri tumbuh jika tidak ada kesenjangan dalam golongan. Untuk generasi sekarang, menjadi gamer merupakan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan," ujar Ridha Audrey, salah satu pegiat esport wanita asal Indonesia dalam webinar bertajuk "Membidik Industri e-Sports di Indonesia" yang diadakan Langit7, Selasa (30/11).
Menurut Audrey, sapaan akrabnya, kesadaran masyarakat masih kurang dan tidak menyadari bahwa gim ini bisa menghasilkan jutaan bahkan miliaran rupiah. Ia mencontohkan dengan kompetisi gim Dota 2 di luar negeri yang memberikan hadiah mencapai 34 juta dollar AS atau setara Rp400 miliar.
"Itu fantastis banget kan. Atau jadi streamer gim bisa menghasilkan ratusan juta per bulan dari platform streaming, belum termasuk sponsor brand, influencer, content creator gaming. Dengan kita dapat uang dari asing maka kita juga turut menyumbang pemasukan kepada negara," kata Audrey.
Pemerintah pun melihat ini sebagai sebuah peluang yang bisa dikembangkan secara berkelanjutan. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) sudah mengakui secara resmi cabang olahraga elektronik ini pada tahun 2018. Sebagai bentuk dukungan, pemerintah juga menyajikan beberapa turnamen, seperti Piala Menpora Esport dan Piala Presiden Esport.
Baca juga: Umat Islam Harus Berperan Aktif dalam Industri e-Sport
Meski begitu, melesatnya esport di Indonesia terbilang masih lambat dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Beberapa faktor didalamnya turut mempengaruhi lambatnya perkembangan esports di Tanah Air.
"Banyak orang masih menganggap gim bukan profesi, padahal industri tumbuh jika tidak ada kesenjangan dalam golongan. Untuk generasi sekarang, menjadi gamer merupakan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan," ujar Ridha Audrey, salah satu pegiat esport wanita asal Indonesia dalam webinar bertajuk "Membidik Industri e-Sports di Indonesia" yang diadakan Langit7, Selasa (30/11).
Menurut Audrey, sapaan akrabnya, kesadaran masyarakat masih kurang dan tidak menyadari bahwa gim ini bisa menghasilkan jutaan bahkan miliaran rupiah. Ia mencontohkan dengan kompetisi gim Dota 2 di luar negeri yang memberikan hadiah mencapai 34 juta dollar AS atau setara Rp400 miliar.
"Itu fantastis banget kan. Atau jadi streamer gim bisa menghasilkan ratusan juta per bulan dari platform streaming, belum termasuk sponsor brand, influencer, content creator gaming. Dengan kita dapat uang dari asing maka kita juga turut menyumbang pemasukan kepada negara," kata Audrey.