Arafah adalah Padang Ma'rifat
A rahman habsyi
Senin, 19 Juli 2021 - 15:55 WIB
Padang Arafah. Foto: Istimewa
Haji adalah alqashdu ilallah (sebuah perjalanan yang amat sangat disengaja dan sadar menuju Allah SWT). Haji, ibadah yang sarat akan makna filosofis. Ibarat engkau menyelami lautan nan luas dan dalam. Semakin dalam menyelami lautan ini, semakin jauh engkau dari tepiannya.
Haji adalah samudera tak bertepi. Haji sarat dengan makna spiritual yang mendalam di balik ritual simboliknya. Puncak dari ibadah haji adalah wukuf di Arafah. “alHaj ‘Arafah,“ demikianlah sabda Nabi Mulia Rasulullah SAW. Wuquf berarti “berhenti“walau sejenak. Dari segi pandangan hukum Islam, siapa yang berhenti walau sejenak di Padang Arafah setelah tergelincirnya matahari 9 Dzulhijjah, maka wukufnya dapat dinilaishahih.
Wukuf di Padang Arafah. Dalam Islam di daerah inilah dipertemukannnya Nabi Adam as dan Siti Hawa, yang kemudian melakukan taubat kepada Allah Swt sebagaimana firman-Nya dalam AlQuran:
“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 23)
Padang Arafah dikenal sebagai miniaturnya Padang Mahsyar. Jutaan jamaah haji dari seluruh dunia berkumpul di tempat ini. Tak ada beda antara pejabat dan rakyat, antara yang kaya dan miskin, dan tak ada sekat-sekat negara bangsa, yang ada hanya manusia sebagi makhluk Allah.
Pakaian para pria berupa dua helai kain tanpa berjahit. Itu serupa dengan yang akan membungkus badan kita meninggalkan dunia yang fana ini. Lantunan Talbiyah yang menyatakan kehadiran ke Baitullah demi karena Allah sambil mengakui nikmat dan kebesaran-Nya, bertujuan menimbulkan suasana kebatinan yang mengantar seseorang berusaha mengenal jati dirinya serta menyadari kehadiran Allah serta keharusan mendekat dan merapat kepada-Nya.
“Berwukuf“, yang juga berarti menghentikan walau sejenak hiruk-pikuk kesibukan duniawi, untuk menuju ketenangan jiwa, serta berusaha melakukan perenungan. Mencoba mendengar bisikan suci nurani.
Haji adalah samudera tak bertepi. Haji sarat dengan makna spiritual yang mendalam di balik ritual simboliknya. Puncak dari ibadah haji adalah wukuf di Arafah. “alHaj ‘Arafah,“ demikianlah sabda Nabi Mulia Rasulullah SAW. Wuquf berarti “berhenti“walau sejenak. Dari segi pandangan hukum Islam, siapa yang berhenti walau sejenak di Padang Arafah setelah tergelincirnya matahari 9 Dzulhijjah, maka wukufnya dapat dinilaishahih.
Wukuf di Padang Arafah. Dalam Islam di daerah inilah dipertemukannnya Nabi Adam as dan Siti Hawa, yang kemudian melakukan taubat kepada Allah Swt sebagaimana firman-Nya dalam AlQuran:
“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 23)
Padang Arafah dikenal sebagai miniaturnya Padang Mahsyar. Jutaan jamaah haji dari seluruh dunia berkumpul di tempat ini. Tak ada beda antara pejabat dan rakyat, antara yang kaya dan miskin, dan tak ada sekat-sekat negara bangsa, yang ada hanya manusia sebagi makhluk Allah.
Pakaian para pria berupa dua helai kain tanpa berjahit. Itu serupa dengan yang akan membungkus badan kita meninggalkan dunia yang fana ini. Lantunan Talbiyah yang menyatakan kehadiran ke Baitullah demi karena Allah sambil mengakui nikmat dan kebesaran-Nya, bertujuan menimbulkan suasana kebatinan yang mengantar seseorang berusaha mengenal jati dirinya serta menyadari kehadiran Allah serta keharusan mendekat dan merapat kepada-Nya.
“Berwukuf“, yang juga berarti menghentikan walau sejenak hiruk-pikuk kesibukan duniawi, untuk menuju ketenangan jiwa, serta berusaha melakukan perenungan. Mencoba mendengar bisikan suci nurani.