Universitas Islam Indonesia, Cita-cita Pendiri Bangsa Lawan Hegemoni Pendidikan Belanda
Muhajirin
Sabtu, 04 Desember 2021 - 15:41 WIB
Universitas Islam Indonesia (Dok UII)
Universitas Islam Indonesia (UII) berdiri megah di bawah kaki Gunung Merapi. Pendirian UII tidak terlepas dari cita-cita para pendiri bangsa seperti Moh. Hatta, KHA Muzakkir, Moh Roem, Moh Natsir, KH Wahid Hasyim, serta rekan-rekan lainnya.
Mereka ingin mendirikan pendidikan tinggi di Indonesia, karena kala itu pendidikan tinggi hanya dimiliki Belanda saja. Meski masih dalam suasana tegang, UII akhirnya resmi berdiri tepat 40 hari sebelum proklamasi kemerdekaan.
Awal mula berdiri UII masih bernama Sekolah Tinggi Indonesia (STI) berlokasi di Kantor Masjumi, Jakarta dan diresmikan pada 27 Rajab 1364 H/8 Juli 1945. Meski pada 10 April 1946, STI harus pindah ke Yogyakarta.
Alasan pemindahan STI dari Jakarta ke Yogyakarta terekam dalam buku Sejarah dan Dinamika UII terbitan Badan Wakaf UII. Pada 4 Januari 1946, ibu kota pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Pemindahan itu berpengaruh pada keberlangsungan pendidikan di STI.
Saat itu, Jakarta tidak kondusif untuk pelaksanaan perkuliahan karena suasana perang. Di sisi lain, beberapa dosen STI juga pejabat pemerintah, sehingga mereka turut pindah ke ibu kota baru.
Mengutip laman UII.ac.id, pada 14 Desember 1947, STI ditetapkan menjadi Universitas Islam Indonesia. UII awalnya dikembangkan dengan beberapa fakultas perintis, seperti Fakultas Agama, Fakultas hukum, Fakultas Pendidikan, dan Fakultas Ekonomi. Pengembangan itu untuk mengintegrasikan pengetahuan umum dengan ajaran-ajaran Islam.
Baca Juga: 7 Universitas Islam Terbaik di Dunia, 3 dari Indonesia
Mereka ingin mendirikan pendidikan tinggi di Indonesia, karena kala itu pendidikan tinggi hanya dimiliki Belanda saja. Meski masih dalam suasana tegang, UII akhirnya resmi berdiri tepat 40 hari sebelum proklamasi kemerdekaan.
Awal mula berdiri UII masih bernama Sekolah Tinggi Indonesia (STI) berlokasi di Kantor Masjumi, Jakarta dan diresmikan pada 27 Rajab 1364 H/8 Juli 1945. Meski pada 10 April 1946, STI harus pindah ke Yogyakarta.
Alasan pemindahan STI dari Jakarta ke Yogyakarta terekam dalam buku Sejarah dan Dinamika UII terbitan Badan Wakaf UII. Pada 4 Januari 1946, ibu kota pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Pemindahan itu berpengaruh pada keberlangsungan pendidikan di STI.
Saat itu, Jakarta tidak kondusif untuk pelaksanaan perkuliahan karena suasana perang. Di sisi lain, beberapa dosen STI juga pejabat pemerintah, sehingga mereka turut pindah ke ibu kota baru.
Mengutip laman UII.ac.id, pada 14 Desember 1947, STI ditetapkan menjadi Universitas Islam Indonesia. UII awalnya dikembangkan dengan beberapa fakultas perintis, seperti Fakultas Agama, Fakultas hukum, Fakultas Pendidikan, dan Fakultas Ekonomi. Pengembangan itu untuk mengintegrasikan pengetahuan umum dengan ajaran-ajaran Islam.
Baca Juga: 7 Universitas Islam Terbaik di Dunia, 3 dari Indonesia