LANGIT7.ID, Yogyakarta - Universitas Islam Indonesia (UII) berdiri megah di bawah kaki Gunung Merapi. Pendirian UII tidak terlepas dari cita-cita para pendiri bangsa seperti Moh. Hatta, KHA Muzakkir, Moh Roem, Moh Natsir, KH Wahid Hasyim, serta rekan-rekan lainnya.
Mereka ingin mendirikan pendidikan tinggi di Indonesia, karena kala itu pendidikan tinggi hanya dimiliki Belanda saja. Meski masih dalam suasana tegang, UII akhirnya resmi berdiri tepat 40 hari sebelum proklamasi kemerdekaan.
Awal mula berdiri UII masih bernama Sekolah Tinggi Indonesia (STI) berlokasi di Kantor Masjumi, Jakarta dan diresmikan pada 27 Rajab 1364 H/8 Juli 1945. Meski pada 10 April 1946, STI harus pindah ke Yogyakarta.
Alasan pemindahan STI dari Jakarta ke Yogyakarta terekam dalam buku Sejarah dan Dinamika UII terbitan Badan Wakaf UII. Pada 4 Januari 1946, ibu kota pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Pemindahan itu berpengaruh pada keberlangsungan pendidikan di STI.
Saat itu, Jakarta tidak kondusif untuk pelaksanaan perkuliahan karena suasana perang. Di sisi lain, beberapa dosen STI juga pejabat pemerintah, sehingga mereka turut pindah ke ibu kota baru.
Mengutip laman UII.ac.id, pada 14 Desember 1947, STI ditetapkan menjadi Universitas Islam Indonesia. UII awalnya dikembangkan dengan beberapa fakultas perintis, seperti Fakultas Agama, Fakultas hukum, Fakultas Pendidikan, dan Fakultas Ekonomi. Pengembangan itu untuk mengintegrasikan pengetahuan umum dengan ajaran-ajaran Islam.
Baca Juga: 7 Universitas Islam Terbaik di Dunia, 3 dari Indonesia
Pada Agustus 1950, Fakultas Agama UII menjadi Perguruan Tinggi Islam Negeri. Saat ini, kampus tersebut dikenal sebagai UIN Sunan Kalijaga. Pada 1951, terjadi dinamika. Beberapa fakultas di UII dibekukan. Selain itu, Perguruan Tinggi Islam Indonesia Surakarta digabung dengan UII.
Kampus itu juga merupakan pionir kampus-kampus yang ada di Indonesia. Sebab, pada 1962, UII membuka cabang-cabang kampus di Kota Surakarta, Purwokerto, Cirebon, Klaten, Madiun, Bangil dan Gorontalo.
Lalu muncul aturan baru yang terdapat dalam peraturan perundangan 1967 dan 1968. Peraturan itu mengharuskan UII melebur fakultas cabang ke fakultas induk di Yogyakarta dan perguruan tinggi setempat.
Pada 1983, UII baru merintis pengadaan lahan untuk dijadikan kampus terpadu di Jalan Kaliurang Km 14.5. Sejak saat itu, kegiatan akademik dan pembangunan fasilitas di kampus terpadu UII terus berlangsung hingga saat ini.
Kampus ini memiliki banyak fasilitas, seperti Masjid Ulil Albab yang megah akan terlihat begitu memasuki area kampus UII. UII juga dilengkapi dengan gedung olahraga (GOR) Ki Bagoes Hadikoesoemo dengan kapasitas kurang lebih 600 orang. GOR itu digunakan oleh mahasiswa dan masyarakat umum.
Baca Juga: Universitas Muhammadiyah Surakarta, Bermula dari 51 Mahasiswa hingga Jadi Universitas Islam Kelas Dunia
Selain itu, La Tofi School of CSR mendapuk UII sebagai kampus hijau dan asri. Ia memberikan penghargaan Indonesia Green Awards dengan kategori Green Campus pada 2012, 2014, dan 2016. Memang, 68 persen lingkungan kampus itu memang merupakan area hijau.
Selain itu, untuk menunjang kelestarian lingkungan, pengelola UII membangun embung UII serta menggunakan beberapa panel surya. Banyak fasilitas lainnya yang terdapat di UII, seperti area exercise medicine center, pondok pesantren, SPBU UII, dan masih banyak fasilitas lain.
Fasilitas dan Keunggulan UIISaat ini, UII telah tumbuh berkembang menjadi tempat pembelajaran yang unggul. Berlokasi di utara Yogyakarta, jantung kebudayaan Jawa, kampus utama UII tepat menghadap keindahan Gunung Merapi, yang menjadikan kampus ini sebagai tempat yang tepat untuk belajar.
Dengan 4 program Doktor, 9 program Magister, 4 program Profesi, 25 program studi Sarjana, dan 4 program Diploma yang mencakup spectrum ilmu pengetahuan yang luas, UII memungkinkan mahasiswa menemukan dan meningkatkan potensi diri untuk meraih depan cemerlang.
Dari sisi internal, UII menyediakan fasilitas modern dan meningkatkan jaminan kualitas, terdapat 10 perpustakaan, 82 laboratorium, dan 27 pusat studi yang penelitian dan pendidikan. UII menempatkan kualitas sebagai prioritas.
Sebagai hasilnya, pada 2013, UII memperoleh akreditasi A untuk Akreditasi Institusi Pendidikan Tinggi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Indonesia, dengan nilai akreditasi yang termasuk tertinggi di antara universitas swasta lain.
Pada 2015, pemerintah menempatkan UII pada peringkat 10 universitas terbaik di Indonesia untuk kategori manajemen pendidikan tinggi dan kualitas organisasional. Pada 2016, UII menjadi perguruan tinggi swasta yang menempati peringkat tertinggi dalam hal penelitian versi Kemenristekdikti.
Pada tahun yang sama, UII mengukuhkan kiprah di level internasional. Itu dibuktikan dengan raihan akreditasi internasional dari
Japan Accreditation Board for Engineering Education (JABEE) yang diberikan kepada Program Studi Teknik Sipil, serta Program Studi Akuntansi yang telah diakreditasi oleh ACCA (the
Association of Chartered Certified Accountants).
Pada awal 2017, akreditasi internasional juga diperoleh Program Studi Arsitektur dari
Korean Architectural Accrediting Board (KAAB). Akreditasi internasional ini juga diperoleh Program Studi Teknik Lingkungan dari Ac
creditation Board for Engineering and Technology (ABET).
Pengakuan internasional juga diperoleh melalui tiga bintang dunia versi QS Stars dengan perolehan skor tertinggi di antara universitas di Indonesia. pada tahun itu pula, Kemenristekdikti menetapkan UII sebagai Perguruan Tinggi Swasta dengan kinerja Pengabdian Masyarakat yang terbaik.
Seiring dengan cita-cita untuk menjadi universitas kelas dunia, UII membangun jejaring yang luas dengan universitas-universitas ternama seperti Universiti Kebangsaan Malaysia; Hokkaido University, Jepang; Solbridge International Business School, Korea; The University of Hawaii at Manoa, Amerika Serikat; dan Saxion of Applied Sciences, Belanda, di antara banyak mitra lainnya.
(jqf)