Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 01 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Zikir dan Fikir, Pondasi Peradaban Islam

Muhajirin Sabtu, 21 Januari 2023 - 18:35 WIB
Zikir dan Fikir, Pondasi Peradaban Islam
ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid, menegaskan, fikir dan zikir merupakan pondasi utama pembangunan peradaban Islam. Namun, umat Islam saat ini hanya berhenti di aktivitas zikir saja, dan tidak terlalu memperhatikan aktivitas ilmiah.

“Sejarah mencatat bahwa perangai ilmiah yang diidikasikan dengan perasaan gandrung terhadap sains, menjadi salah satu pendorong pengembangan sains di dunia Islam sampai mencapai masa kejayaannya. Ketika itu, sains dan saintis sangat dihargai,” kata Fathul dalam peluncuran buku ‘Integrasi Ilmu dan Islam’ karya Prof AM Saefuddin dan Drs Yuddy Ardhi di Universitas Al Azhar Indonesia, dikutip Sabtu (21/1/2023).

Dia mengilustrasikan kehidupan umat Islam saat ini saat melihat gugusan awan menyerupai tulisan Allah atau Muhammad. Sebagian besar umat Islam akan mengucapkan masya Allah, tanda takjud dan bentuk zikir kepada Sang Pencipta. Respon itu sama sekali tidak salah dan bahkan dianjurkan.

Baca Juga: Rektor UII: Peradaban Islam Bisa Bangkit dengan Keterbukaan dan Kolaborasi

“Namun, apakah kita pernah mendengar diskusi lanjutan, yang membahas bagaimana menjelaskan fenomena tersebut secara ilmiah, terkait pembentukan awan yang mempunyai beragam formasi atau sejenisnya?” tutur Fathul.

Jika setiap umat Islam sepakat konsep ulul albab menjadi landasan epistemologi, maka respons ‘masya Allah’ baru mengandung satu aspek yakni zikir. Hal itu belum masuk secara serius ke aspek kedua yakni berpikir.

“Karenanya, muslim dengan perangai ilmiah, sebagai penerjemahan aspek berpikir ulul albab, akan menggunakan pendekatan ilmiah dalam melihat banyak hal dan dalam mengambil beragam keputusan,” ucap Fathul.

Hal itu sangat penting, karena kepercayaan publik terhadap sains dan saintis masih rendah. Survei Wellcome Global Monitor pada 2018 menemukan, hanya 32% responden yang punya kepercayaan tinggi terhadap sains secara umum. Hanya 34% responden yang mempunyai kepercayaan tinggi terhadap saintis.

Baca Juga: Prof AM Saefuddin Ungkap Penyebab Zionis Maju dan Umat Islam Mundur

“Kepercayaan kita terhadap sains dan saintis merupakan salah satu indikasi perangai ilmiah kita,” kata Fathul.

Perkembangan Sains Peradaban Islam di Masa Lalu

Profesor dari Universitas Harvard, Eric Chaney menemukan riset terkait perkembangan peradaban Islam yang sangat menarik. Dia ingin mencari bukti empiris di masa lampau cara umat Islam memberikan perhatian kepada pengembangan sains.

Dia lalu mengumpulkan data dari Perpustakaan Universitas Harvard yang berkaitan dengan perkembangan peradaban Islam pada masa lampau. Dia mengumpulkan buku yang ditulis antara tahun 800-1500 M yang diterbitkan di wilayah Islam saat itu dan ditulis oleh penulis Arab.

“Tentu, meski bernama Arab, tidak selalu beragama Islam,” ucap Fathul.

Buku dikelompokkan menjadi dua. Buku agama yang ditulis oleh penulis dari madrasah, dan buku sains yang ditulis dari lembaga riset. Selain tahun terbit, kota tempat terbit buku juga dipetakan.

Baca Juga: 3 Ciri Manusia Beradab: Beriman, Berilmu, dan Beramal

“Temuan penting pertama mengamplifikasi pengetahuan kita selama ini, bahwa ada beberapa kota yang menjadi episentrum peradaban Islam saat ini. Kota tersebut adalah Baghdad, Aleksandria, dan Cordoba. Di ketiga kota itu, banyak buku diterbitkan,” ungkap Fathul.

Temuan menarik lain, sebelum abad ke-11, jumlah buku sains yang diterbitkan jauh lebih baik dibanding buku agama. Namun, mulai abad ke-11, jumlah buku tentang agama naik tajam dan jumlah buku sains turun drastis.

“Sejarah mencatat bahwa kemunduran peradaban Islam dimulai pada abad ke-11 tersebut. Koinsedensi ini membimbingkan pada sebuah kesimpulan terkait dengan peran pengembangan sains dalam sebuah peradaban,” ucap Fathul.

Fathul menyimpulkan, jika berzikir merupakan salah satu sayap peradaban Islam, maka pengembangan sains yang didorong perangai ilmiah dan episteme berpikir merupakan sayap kedua.

“Ibarat seekor burung, peradaban Islam tidak akan bisa terbang tinggi tanpa dua sayap yang sempurna, saya zikir dan sayap pikir,” tutur Fathul.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 01 Juni 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)