LANGIT7.ID, Jakarta -
Perguruan Tinggi di Indonesia awalnya didirikan oleh penjajah Belanda. Basis pendidikannya yang sekuler, membuat umat Islam di Indonesia ingin mendirikan Perguruan Tinggi Islam.
Sejarawan Mun’im Sirry menyebut Perguruan Tinggi Islam muncul pertama kali beberapa bulan sebelum Indonesia merdeka. Sekolah Tinggi Islam (STI) Jakarta yang sekarang menjadi Universitas Islam Indonesia, didirikan pada 27 Rajab 1365 H atau bertepatan 8 Juli 1945 M.
Pada 10 April 1946, Sekolah Tinggi Islam kemudian resmi dibuka di Yogyakarta. Hingga pada 14 Desember 1947, panitia perbaikan STI menetapkan STI menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) berkedudukan di Yogyakarta dengan fakultas perintis di antaranya Fakultas Agama, Fakultas Hukum, Fakultas Pendidikan, dan Fakultas Ekonomi.
“Seperti halnya sistem madrasah dan pesantren, perguruan tinggi di Indonesia sudah muncul sebelum kemerdekaan Indonesia. Tetapi, terbentuknya perguruan tinggi Islam baru terlaksana beberapa bulan setelah kemerdekaan Indonesia yaitu pada 1946,” kata Mun’im dalam webinar Pendidikan Agama Islam: Tantangan dan Respon Pendidikan Islam di Era Society 5.0 beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Berawal dari Pesantren, Madrasah Jadi Antitesis Sekolah Modern ala Penjajah
Sekolah Tinggi Islam diresmikan oleh Wakil Presiden Indonesia Mohammad Hatta. Sambutan Moh Hatta dalam peresmian itu sangat menarik jika dicermati, karena dia membayangkan sekolah Islam yang sangat inklusif.
Bagi Moh Hatta, Sekolah Tinggi Islam bukan hanya mengajarkan materi agama, tapi juga materi-materi umum seperti filsafat, sosiologi, dan sejarah. Sekolah Tinggi Islam beberapa tahun kemudian bertransformasi menjadi Universitas Islam Indonesia pada 1948.
“Pada masa-masa awal setelah kemerdekaan, sebenarnya dukungan pemerintah terhadap perguruan tinggi Islam tidak cukup kelihatan. Baru pada 1960 Indonesia baru memiliki Institut Agama Islam Negeri (IAIN),” jelas Mun’im.
Pada 1960, Mun’im menyebut baru ada dua IAIN di Indonesia. Tapi, hanya dalam kurun waktu 13 tahun, IAIN mengalami perkembangan sangat pesat. Dari dua IAIN menjadi 113 IAIN pada 1973.
“Kala itu, baru terbentuk dua IAIN. Tapi yang menarik adalah bahwa pertumbuhan IAIN, meski baru muncul pada 1960, menjamur begitu cepat. Hanya dalam waktu 13 tahun hingga 1973, di Indonesia ada 113 IAIN,” ungkap Mun’im.
Baca Juga: Sejarah IAIN di Indonesia hingga Bertransformasi Menjadi UIN
Perubahan relatif fundamental mulai muncul dengan lahirnya Universitas Islam Negeri (UIN). UIN merupakan hasil transformasi IAIN yang secara kelembagaan berupa Institut menjadi Universitas.
Sebagai sebuah lembaga universitas, UIN tidak lagi seperti IAIN. Universitas itu tidak hanya menekuni ilmu agama, tetapi juga ilmu umum. Prodi-prodi ilmu agama berada di bawah naungan Kementerian Agama, sementara prodi umum berada di bawah naungan Kemendikbud-Ristek.
Perkembangan ini menarik dicermati, karena memberi gambaran semakin jelas pentingnya ‘pendidikan satu atap’ yang sudah didengungkan sejak lama oleh pakar pendidikan di Indonesia. Perkembangan terakhir dari PTI yang berupa UIN itu bukan perkembangan sesaat dan tiba-tiba. Tetapi, hasil dari pergulatan panjang umat Islam di Indonesia.
“Di bawah pimpinan Prof Abdul Mukti Ali, Kementerian Agama melakukan reorientasi sistem IAIN yang sudah berkembang di berbagai wilayah. Sekitar 1975, IAIN kemudian dikurangi hanya menjadi 13 IAIN di Indonesia,” kata Mun’im.
(jqf)