Haji dan Pandemi, Sejarah Mencatat Wabah Berulang Kali Ancam Jamaah
Fajar adhitya
Kamis, 22 Juli 2021 - 05:03 WIB
Jamaah haji berdoa di Jabal Rahmah saat berwukuf di Padang Arafah, Makkah, Arab Saudi (19/7/2021). Foto: AFP
Pandemi Covid-19 membuat pelaksanaan haji dalam dua tahun terakhir menjadi sangat ketat. Kerajaan Arab Saudi menutup dua Kota Suci dari masyarakat dunia yang ingin berziarah demi mecegah penyebaran virus yang pertama kali muncul di Kota Wuhan, China tersebut.
Meski begitu, Covid-19 bukanlah wabah pertamayang memengaruhi ritual haji. Ibnu Katsir dalam Al-Bidaya wa Nihaya mencatat Makkah pernah dilanda endemi yang dikenal sebagai Al Mashri pada 968 Masehi. Wabah tersebut menewaskan banyak orang, termasuk hewan-hewan ternak penduduk.
"Sedangkan peziarah yang mampu menunaikan ibadah haji tidak lama kemudian meninggal dunia," dikutip dariArabnews, Rabu (21/7/2021).
Beberapa sejarawan mencatat, konvoi peziarah mengalami penurunan yang signifikan selama periode tersebut. Terutama dari daerah yang dilanda endemi karena memburuknya keadaan sosial dan ekonomi yang disebabkan sejumlah lain di periode selanjutnya.
Kemudian, pada abad ke-15, Arab Saudi kembali diserang wabah penyakit. Dalam kitab ensiklopedi sejarah bertajuk Inba’ al-Ghumar bi Abna al-Umr, Ibnu Hajar mencatat, wabah tersebut mengakibatkan korban meninggal mencapai 1.700 orang.
Sebanyak 40 orang meninggal setiap hari. Kerajaan lantas menutup masjid-masjid di Makkah, termasuk Masjidil Haram untuk menyelamatkan nyawa warganya. Seiring perkembangan zaman, perjalanan haji mengalami reformasi dalam transportasi.
Namun, kemudahan transportasi justru menjadi beban ketika wabah melanda dan membuat penyakit tersebar lebih cepat. Pada abad ke-19, kolera menjangkiti Eropa hingga semenanjung Arab dan mempengaruhi jalur-jalur haji.
Meski begitu, Covid-19 bukanlah wabah pertamayang memengaruhi ritual haji. Ibnu Katsir dalam Al-Bidaya wa Nihaya mencatat Makkah pernah dilanda endemi yang dikenal sebagai Al Mashri pada 968 Masehi. Wabah tersebut menewaskan banyak orang, termasuk hewan-hewan ternak penduduk.
"Sedangkan peziarah yang mampu menunaikan ibadah haji tidak lama kemudian meninggal dunia," dikutip dariArabnews, Rabu (21/7/2021).
Beberapa sejarawan mencatat, konvoi peziarah mengalami penurunan yang signifikan selama periode tersebut. Terutama dari daerah yang dilanda endemi karena memburuknya keadaan sosial dan ekonomi yang disebabkan sejumlah lain di periode selanjutnya.
Kemudian, pada abad ke-15, Arab Saudi kembali diserang wabah penyakit. Dalam kitab ensiklopedi sejarah bertajuk Inba’ al-Ghumar bi Abna al-Umr, Ibnu Hajar mencatat, wabah tersebut mengakibatkan korban meninggal mencapai 1.700 orang.
Sebanyak 40 orang meninggal setiap hari. Kerajaan lantas menutup masjid-masjid di Makkah, termasuk Masjidil Haram untuk menyelamatkan nyawa warganya. Seiring perkembangan zaman, perjalanan haji mengalami reformasi dalam transportasi.
Namun, kemudahan transportasi justru menjadi beban ketika wabah melanda dan membuat penyakit tersebar lebih cepat. Pada abad ke-19, kolera menjangkiti Eropa hingga semenanjung Arab dan mempengaruhi jalur-jalur haji.