home edukasi & pesantren

Ini Perbedaan Konsep Iman Mu’tazilah dengan Ahlussunnah

Ahad, 09 Januari 2022 - 10:10 WIB
Iman merupakan fondasi mendasar bagi seorang muslim. Foto: Langit7/iStock.
Mu’tazilah memandang keimanan adalah tindakan yang bersifat aktif terhadap ketentuan Allah. Iman bukan hanya tasdiq (membenarkan) dalam arti menerima sebagai suatu yang benar apa yang disampaikan oleh orang lain. Akan tetapi, iman adalah pelaksanaan kewajiban-kewajiban kepada Tuhan.Dengan kata lain, orang yang membenarkan (tasdiq) bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya, tetapi tidak melaksanakan kewajibannya, maka tidak dapat dikatakan mukmin. Karenanya, Mu’tazilah enggan memberikan vonis kepada pelaku dosa besar. Mu’tazilah mengategorikan pelaku dosa besar sebagai tidak mukmin dan tidak juga kafir.

Baca Juga:Digandrungi Selebritas, Spirit Doll Sebabkan Pendangkalan AkidahSedangkan Asy’ariyah meletakkan keimanan sepanjang seseorang percaya akan ketauhidan Allah dan kerasulan Muhammad. Apabila seorang muslim berbuat kemaksiatan atau dosa besar, Asy’ariah tetap menghukumi sebagai seorang mukmin, tapi mukmin yang fasiq.Asy’ariyah memandang kekufuran adalah kehendak Allah yang menjadikan kekufuran adalah seburuk-buruknya perbuatan. Sebagaimana pula Allah menurunkan wahyu agar manusia dapat mengetahui kewajiban dan larangannya.

Baca Juga:14 Tahun Mangkrak, Masjid Agung Al Ikhlas Kini Dapat Tampung Ribuan JemaahSenada, Maturidiyah juga berpendapat bahwa orang yang berdosa besar masih tetap mukmin, dan soal dosa besarnya akan ditentukan Allah Swt kelak di akhirat. Al-Maturidi juga menolak ajaran al-Manzilah baina al Manzilahta yang menjadi pokok keimanan kalangan Mu’tazilah.Sumber: Buku Pergolakan Pemikiran Islam.

Baca Juga:Terbang Perdana di Masa Pandemi, Kemenag: Terima Kasih Arab Saudi
(zhd)
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
tauhid akidah ahlussunnah wal jamaah
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya